By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
HeryArts NewsHeryArts NewsHeryArts News
  • Home
  • Tech News
    Tech NewsShow More
    Kontroversi Desain Paspor Baru Amerika Serikat Era Donald Trump: Antara Branding Institusi dan Citra Personal yang Ambisius
    11 Min Read
    Bukan Salah Download! Inilah Alasan Logo Olimpiade Musim Dingin 2030 Terlihat Seperti Aplikasi Perbankan Digital
    9 Min Read
    Ancaman Tersembunyi di Balik Layar: Bagaimana AI Chatbot Tanpa Sadar Bisa Memperparah Gejala OCD dan Gangguan Kecemasan
    11 Min Read
    Terobosan Baru Linux: exFAT Progs 1.4 Resmi Rilis, Kini Mendukung Pembuatan Tabel Partisi Secara Langsung!
    10 Min Read
    Rahasia Stabilitas Server: Panduan Lengkap Konfigurasi IP Statis dan DNS di Ubuntu 26.04 Menggunakan Netplan
    10 Min Read
  • AI News
    AI NewsShow More
    Dilema Kecerdasan Buatan: Mengapa Model AI Kecil Kini Mulai Mengancam Dominasi Frontier Models yang Raksasa?
    12 Min Read
    Menguak Tabir Debat AI Safety: Mengapa Diskusi Sebenarnya Tentang Keamanan Kecerdasan Buatan Justru Tenggelam dalam Hiruk-Pikuk Industri?
    13 Min Read
    AS Perketat Kendali AI: Setelah Anthropic, Kini Giliran GPT-5.6 OpenAI yang Terkena Pembatasan Pemerintahan Trump
    9 Min Read
    Rahasia Skalabilitas Model AI Raksasa: Mengenal Micro-DDP, Teknik Distribusi Beban Kerja yang Mengubah Aturan Main
    11 Min Read
    ElevenLabs Adopsi Google SynthID: Solusi Mutakhir Deteksi Deepfake Audio yang Semakin Sulit Dibedakan dari Suara Manusia Asli
    9 Min Read
  • Mobile
    MobileShow More
    MSI Claw 8 EX AI+: Revolusi Konsol Genggam Windows yang Menantang Dominasi Steam Deck dengan Performa AI dan Sistem Docking Cerdas
    13 Min Read
    Revolusi Digital Detox: Aplikasi UltraPod Ubah iPhone Canggih Menjadi ‘Dumbphone’ Musik Bergaya iPod Retro
    10 Min Read
    Lupakan iPhone 13 Mini! Enough Phone Hadir Sebagai Smartphone Super Kompak 5.2 Inci dengan Baterai Monster dan Desain Modular
    10 Min Read
    Commodore Callback 8020: Ponsel Flip Retro yang Picu Kontroversi Harga, Akhirnya Menyerah pada Tekanan Pasar?
    10 Min Read
    Vivo X Fold6 Resmi Meluncur: Baterai Monster 7.000 mAh dan Layar 5.000 Nits Siap Tumbangkan Dominasi Samsung Galaxy Z Fold7 di Pasar Global
    11 Min Read
  • Gadget
    GadgetShow More
    Bukan Salah Download! Inilah Alasan Logo Olimpiade Musim Dingin 2030 Terlihat Seperti Aplikasi Perbankan Digital
    9 Min Read
    Apple Silicon Terlalu Tangguh? Mengapa Pengguna MacBook Kini Malas Upgrade ke Model Terbaru
    10 Min Read
    Bukan Sekadar Minimalis! Inilah Rahasia Filosofi ‘Ma’ dalam Desain Jepang yang Selama Ini Salah Dipahami Dunia
    67 Min Read
    Update COSMIC Desktop 1.0.14: Kini Mendukung Kendali Kecerahan Monitor Eksternal untuk Kenyamanan Visual Maksimal
    11 Min Read
    Mengenal Vigolium: Alat Pemindai Kerentanan Open-Source Terbaru untuk Memperkuat Pertahanan Siber Anda secara Maksimal
    10 Min Read
  • Software
    SoftwareShow More
    Update COSMIC Desktop 1.0.14: Kini Mendukung Kendali Kecerahan Monitor Eksternal untuk Kenyamanan Visual Maksimal
    11 Min Read
    Mengenal Vigolium: Alat Pemindai Kerentanan Open-Source Terbaru untuk Memperkuat Pertahanan Siber Anda secara Maksimal
    10 Min Read
    Terobosan Baru Linux: exFAT Progs 1.4 Resmi Rilis, Kini Mendukung Pembuatan Tabel Partisi Secara Langsung!
    10 Min Read
    Rahasia Stabilitas Server: Panduan Lengkap Konfigurasi IP Statis dan DNS di Ubuntu 26.04 Menggunakan Netplan
    10 Min Read
    LibreOffice Guncang Pasar Produktivitas: Bocoran Strategi Baru Web dan Mobile yang Bakal Ubah Cara Kerja Kita Selamanya
    10 Min Read
  • Gaming
    GamingShow More
    Fenomena ‘AI Slop’: Mengapa Tuduhan Tanpa Bukti Kini Menjadi Senjata Berbahaya yang Mengancam Industri Game Global?
    10 Min Read
    Xbox Pecahkan Rekor! Pre-Order GTA 6 di Series X/S Meledak, Bantah Rumor Kekalahan Telak dari PS5
    9 Min Read
    Daftar Lengkap Rilis Game Xbox Juli 2026: Ledakan Judul Baru dan Kejutan Xbox Game Pass yang Wajib Dinanti
    11 Min Read
    Wuthering Waves Akhiri Eksklusivitas PS5: Siap Meluncur di Xbox Minggu Depan dengan Bonus Spesial Game Pass!
    12 Min Read
    Eksklusif: Menguji Nyali Intel Arc G3 Extreme dalam MSI Claw 8 EX AI+, Revolusi Handheld Gaming atau Sekadar Gimmick Mahal?
    12 Min Read
  • Education
    EducationShow More
    China Guncang Dunia Pendidikan: 12.000 Jurusan Kuliah Dihapus Massal Demi Dominasi Mutlak Kecerdasan Buatan
    9 Min Read
    Pelajaran Berharga dari Toy Story 5: Mengapa Anda Harus Memberi Anak Kindle Kids Edition dan Bukan Tablet ‘Brainrot’ di Prime Day Kali Ini
    10 Min Read
    PaperTok: Inovasi AI Peneliti University of Washington yang Ubah Jurnal Ilmiah Menjadi Video ala TikTok
    11 Min Read
    Mosyle@Home Hadir Sebagai Solusi Revolusioner Manajemen Screen Time iPad dan Mac Sekolah untuk Orang Tua
    9 Min Read
    Avmira Raih Skor Proof of Usefulness 21.71: Revolusi Platform Edukasi Digital Berbasis AI untuk Developer Masa Depan
    14 Min Read
Search
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
Reading: Masa Depan Desain di Ambang Revolusi AI: Mengapa Figma Harus Berubah, Bahaya ‘Low Taste’ di Perusahaan, dan Kebohongan Aplikasi Perbankan Anda
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
HeryArts NewsHeryArts News
Font ResizerAa
  • Home
  • Tech News
  • AI News
  • Mobile
  • Gadget
  • Software
  • Gaming
  • Education
Search
  • Home
  • Tech News
  • AI News
  • Mobile
  • Gadget
  • Software
  • Gaming
  • Education
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
HeryArts News > Blog > Artificial Intelligence > Masa Depan Desain di Ambang Revolusi AI: Mengapa Figma Harus Berubah, Bahaya ‘Low Taste’ di Perusahaan, dan Kebohongan Aplikasi Perbankan Anda
Artificial IntelligenceBisnis DigitalDesain ProdukFinansialInovasi Teknologi

Masa Depan Desain di Ambang Revolusi AI: Mengapa Figma Harus Berubah, Bahaya ‘Low Taste’ di Perusahaan, dan Kebohongan Aplikasi Perbankan Anda

Last updated: June 30, 2026 6:52 am
heryarts
Share
SHARE

Dunia desain produk digital saat ini sedang berada di persimpangan jalan yang sangat krusial, di mana alat-alat yang selama ini kita agungkan mulai dipertanyakan relevansinya di tengah gempuran teknologi baru. Selama lebih dari satu dekade, Figma telah menjadi standar emas yang mendefinisikan bagaimana tim membangun perangkat lunak, mengubah kolaborasi menjadi bahasa universal bagi desainer di seluruh dunia. Namun, kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence yang masif telah memaksa para praktisi untuk melihat kembali apakah konsep “kanvas” tradisional masih akan tetap menjadi pusat gravitasi dalam proses kreatif masa depan. Melalui kacamata gelaran Config 2026, kita mulai melihat pergeseran paradigma yang mendalam, di mana desain tidak lagi hanya tentang estetika visual semata, melainkan mulai merambah ke ranah kode, gerak (motion), shaders, dan alur kerja berbasis agen otomatis yang lebih kompleks.

Contents
Evolusi Figma di Tengah Tekanan AI dan Paradigma Config 2026Pergeseran dari Kanvas ke Alur Kerja Berbasis AgenBeban Berat Organisasi Akibat ‘Low Taste’ dalam Pengambilan KeputusanMembongkar ‘Kebohongan’ di Balik Antarmuka Aplikasi Perbankan AndaManipulasi Psikologis dalam Desain FinansialSistem Desain dan Penilaian Manusia: Apakah AI Akan Mengambil Alih?Navigasi Desainer di Era Generative AI: Kualitas vs KuantitasMengapa Prototipe AI Seringkali Menipu?Kesimpulan dan Pandangan ke Depan bagi Industri Kreatif

Sebagai jurnalis yang telah memantau industri ini selama dua dekade, saya melihat bahwa tantangan yang dihadapi Figma saat ini bukan sekadar persaingan antar perangkat lunak, melainkan perubahan fundamental dalam cara produk direncanakan dan dikirimkan. Darren Yeo dalam analisis terbarunya menekankan bahwa Figma tidak lagi hanya bisa bertahan dengan mempertahankan kanvas kolaboratifnya yang lama, tetapi harus aktif beralih menjadi platform yang mengintegrasikan kecerdasan buatan secara end-to-end. Jika sebelumnya desain dianggap sebagai tahap yang terpisah dari pengembangan, kini batas-batas tersebut semakin kabur karena AI memungkinkan transformasi instan dari sketsa menjadi kode fungsional. Hal ini memicu pertanyaan besar bagi para profesional: apakah peran desainer akan tetap relevan jika mesin dapat melakukan sebagian besar pekerjaan teknis di atas kanvas?

Evolusi Figma di Tengah Tekanan AI dan Paradigma Config 2026

Perhelatan Config 2026 memberikan sinyal yang jauh lebih mendesak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya mengenai arah masa depan alat desain. Figma kini tidak hanya sekadar mempertahankan posisinya sebagai kanvas desain, tetapi secara agresif memperluas jangkauannya ke ranah yang sebelumnya dianggap sebagai domain pengembang, seperti kode produksi dan simulasi gerak yang canggih. Strategi ini diambil karena model lama yang hanya fokus pada visual statis mulai mendapatkan tekanan besar dari alat-alat desain berbasis AI yang mampu menghasilkan UI secara instan. Belum ada konfirmasi resmi mengenai fitur rahasia lainnya, namun langkah ini menunjukkan bahwa Figma sedang berupaya menjadi sistem operasi untuk seluruh proses pembuatan produk digital.

Pergeseran dari Kanvas ke Alur Kerja Berbasis Agen

Dalam ekosistem desain yang baru, peran agen AI akan menjadi rekan kerja yang proaktif bagi desainer, bukan sekadar alat bantu pasif. Agen-agen ini diharapkan mampu melakukan tugas-tugas repetitif seperti penyesuaian tata letak di berbagai ukuran layar atau sinkronisasi komponen sistem desain secara otomatis. Hal ini memungkinkan desainer untuk fokus pada pemikiran strategis dan pemecahan masalah yang lebih kompleks.

“Figma tidak lagi hanya membela kanvas desain kolaboratif; ia secara aktif memperluas kanvas tersebut ke dalam kode, gerak, dan alur kerja yang digerakkan oleh agen,”

ungkap Darren Yeo dalam ulasannya mengenai masa depan desain produk.

Beban Berat Organisasi Akibat ‘Low Taste’ dalam Pengambilan Keputusan

Di balik gemerlap teknologi AI, ada isu fundamental yang sering diabaikan oleh banyak perusahaan besar: biaya organisasi akibat rendahnya selera atau low taste. Aurélie Radom memberikan perspektif yang sangat tajam bahwa sebuah organisasi seringkali tidak gagal karena strategi yang buruk, melainkan karena keputusan-keputusan kecil harian yang mencerminkan kurangnya standar kualitas dan estetika. Dalam dunia yang didorong oleh data, banyak pemimpin perusahaan cenderung mengabaikan intuisi dan selera demi mengejar metrik jangka pendek, yang pada akhirnya merusak nilai jangka panjang dari produk yang mereka hasilkan.

Selera atau taste dalam konteks ini bukan hanya soal keindahan visual, melainkan tentang pemahaman mendalam terhadap kualitas, kegunaan, dan keunggulan pengalaman pengguna. Ketika sebuah organisasi membiarkan standar kualitasnya menurun, mereka sebenarnya sedang menumpuk utang teknis dan desain yang akan sangat mahal untuk diperbaiki di masa depan. AI mungkin bisa membantu memproduksi konten dalam jumlah besar, tetapi tanpa arahan dari manusia yang memiliki selera tinggi, hasil yang diberikan AI cenderung menjadi generik dan kehilangan jiwa. Oleh karena itu, kemampuan untuk membedakan mana yang luar biasa dan mana yang sekadar “cukup baik” menjadi kompetensi yang sangat langka dan berharga di era otomatisasi ini.

Membongkar ‘Kebohongan’ di Balik Antarmuka Aplikasi Perbankan Anda

Isu lain yang tidak kalah menarik untuk dibahas adalah bagaimana aplikasi perbankan modern seringkali dianggap “berbohong” kepada penggunanya melalui desain antarmuka yang menyesatkan. Zeeshan Khalid menyoroti fenomena di mana User Interface aplikasi finansial dirancang untuk menyembunyikan biaya tambahan, mempersulit proses pembatalan layanan, atau memberikan ilusi keamanan yang sebenarnya rapuh. Desain yang seharusnya berfungsi untuk memberdayakan pengguna justru sering disalahgunakan untuk kepentingan profitabilitas bank dengan cara yang tidak transparan.

Manipulasi Psikologis dalam Desain Finansial

  • Penggunaan skema warna yang menenangkan untuk menutupi risiko investasi yang tinggi.
  • Penempatan tombol transaksi yang sangat menonjol dibandingkan tombol pengaturan privasi atau keamanan.
  • Istilah teknis yang sengaja dibuat rumit agar pengguna tidak memahami konsekuensi dari sebuah fitur.
  • Notifikasi yang dirancang untuk menciptakan rasa urgensi palsu agar pengguna segera melakukan pengeluaran.

Praktik-praktik semacam ini menciptakan krisis kepercayaan dalam ekonomi digital. Sebagai pengguna yang cerdas, kita perlu menyadari bahwa setiap elemen dalam aplikasi perbankan telah dipikirkan secara matang untuk memengaruhi perilaku kita. Desain produk yang etis seharusnya mengedepankan transparansi dan membantu pengguna membuat keputusan finansial yang lebih baik, bukan malah menjebak mereka dalam labirin antarmuka yang membingungkan.

Sistem Desain dan Penilaian Manusia: Apakah AI Akan Mengambil Alih?

Selama ini kita percaya bahwa Design System yang kuat adalah kunci untuk konsistensi dan efisiensi dalam skala besar. Namun, Dolphia mengungkapkan sebuah fakta yang cukup mengejutkan: sistem desain yang paling canggih sekalipun sebenarnya berjalan di atas penilaian satu atau segelintir orang saja. AI akan segera membuktikan hal ini dengan menunjukkan inkonsistensi yang muncul ketika aturan-aturan kaku dalam sistem desain bertemu dengan konteks penggunaan yang dinamis. Kecerdasan buatan memiliki kemampuan untuk menganalisis jutaan data poin dan menemukan celah di mana penilaian manusia selama ini bersifat subjektif dan tidak konsisten.

Meskipun demikian, konsistensi dalam keunggulan (excellence) jauh lebih penting daripada sekadar konsistensi dalam penampilan. Jim Nielsen berpendapat bahwa sistem seringkali hanya meresepkan aturan yang mudah didokumentasikan, seperti ukuran ikon atau jenis huruf, tetapi gagal menangkap esensi dari kualitas yang sebenarnya. Keunggulan membutuhkan penilaian, selera, pengalaman, dan sensitivitas terhadap konteks—hal-hal yang hingga saat ini masih sangat sulit untuk disistematisasi atau didelegasikan sepenuhnya kepada AI. Di masa depan, desainer yang sukses adalah mereka yang mampu menggunakan AI untuk menjaga konsistensi teknis, sambil tetap mempertahankan kendali atas kualitas artistik dan fungsionalitas produk.

Navigasi Desainer di Era Generative AI: Kualitas vs Kuantitas

Munculnya Generative AI telah mengubah model interaksi yang selama ini menjadi jangkar dalam dunia desain digital. Emily Campbell menjelaskan bahwa produk AI yang hebat bersifat multidimensi, di mana perubahan kecil pada satu lapisan pengalaman dapat memberikan dampak yang sangat besar pada keseluruhan sistem. Kita kini dihadapkan pada dilema antara kuantitas dan kualitas. Di satu sisi, AI memungkinkan siapa saja untuk menciptakan sesuatu dengan cepat dan dalam jumlah banyak. Namun di sisi lain, lebih banyak hal yang dibuat tidak berarti hal-hal tersebut menjadi lebih baik.

Mengapa Prototipe AI Seringkali Menipu?

Nicola Piedimonte memberikan peringatan keras bagi para desainer: prototipe yang dihasilkan oleh AI seringkali bukanlah prototipe yang sebenarnya. Hasil tersebut mungkin terlihat memukau secara visual, tetapi belum tentu merupakan bukti bahwa pengalaman pengguna tersebut benar-benar berfungsi dengan baik di dunia nyata. Sebuah prototipe seharusnya menjadi alat untuk menguji hipotesis dan memvalidasi alur kerja, bukan sekadar gambar indah yang dihasilkan oleh algoritma. Tanpa pemahaman mendalam tentang psikologi pengguna dan batasan teknis, hasil dari alat AI seperti UX Pilot AI hanya akan menjadi sekadar hiasan tanpa nilai guna yang nyata.

Kesimpulan dan Pandangan ke Depan bagi Industri Kreatif

Menutup analisis mendalam ini, jelas bahwa industri desain sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks dan terintegrasi dengan teknologi. Figma, sebagai pemimpin pasar, sedang berupaya keras untuk mendefinisikan ulang dirinya agar tetap relevan di era AI. Namun, teknologi hanyalah satu sisi dari mata uang. Sisi lainnya adalah manusia—kemampuan kita untuk mempertahankan selera yang tinggi, etika dalam mendesain produk sensitif seperti perbankan, dan keberanian untuk tetap kritis terhadap hasil yang diberikan oleh mesin. Transformasi Digital yang sesungguhnya bukan tentang mengganti manusia dengan AI, melainkan tentang bagaimana manusia menggunakan AI untuk mencapai tingkat keunggulan yang sebelumnya tidak mungkin dicapai.

Ke depan, kita bisa mengharapkan munculnya alat-alat baru yang lebih intuitif, seperti tips penggunaan Claude AI dari Sean Filiatrault yang membantu desainer berhenti menjelaskan hal yang sama berulang kali kepada mesin. Kita juga akan melihat hubungan yang lebih erat antara berbagai disiplin ilmu, seperti yang dibahas oleh Kate Dowler mengenai kaitan antara ritme musik dan kreativitas desain. Pada akhirnya, di dunia yang semakin otomatis, sentuhan manusia yang penuh empati, selera yang terasah, dan penilaian yang jujur akan menjadi aset yang paling berharga dan tak tergantikan dalam industri kreatif global.

You Might Also Like

Terobosan Baru! Tesla Resmi Luncurkan FSD v14 ‘Lite’ untuk Jutaan Mobil Hardware 3, Simak Detail Teknis dan Dampaknya

Gobao Guncang Industri Sepeda Listrik: Kenalkan Teknologi eCVT dan Baterai Super Cepat yang Siap Matikan Dominasi Pemain Lama!

Skandal Nyawa di Balik Asap Knalpot: Studi ICCT Ungkap Percepatan Mobil Listrik Bisa Selamatkan 8,8 Juta Orang

Bocoran BMW iX5 Terbaru Terungkap ke Publik! Intip Desain Unik SUV Listrik Mewah Ini Sebelum Debut Resmi 30 Juni

Kejutan di Florida: Ron DeSantis Veto RUU Keselamatan E-Bike yang Didukung Suara Bulat, Apa Dampaknya?

TAGGED:#AplikasiMobile#ArtificialIntelligence#ClaudeAI#Config2026#DesainProduk#DesignSystem#DigitalTransformation#Figma#Finansial#InovasiTeknologi#ProductDesign#TechTrendsCreativeIndustryUIUXUXDesign

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Share
Previous Article Gebrakan NVIDIA 610: Driver Linux Terbaru Resmi Dirilis dengan Optimasi Vulkan dan Wayland yang Revolusioner
Next Article Ancaman Tersembunyi di Balik Layar: Bagaimana AI Chatbot Tanpa Sadar Bisa Memperparah Gejala OCD dan Gangguan Kecemasan
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Stay Connected

248.1kLike
54.3kFollow
10.3kSubscribe
39.5kFollow
banner banner
Create an Amazing Newspaper
Discover thousands of options, easy to customize layouts, one-click to import demo and much more.
Learn More

Latest News

Revolusi Logistik Hijau: Penjualan Truk Nol Emisi Melonjak Drastis 37 Persen Sepanjang 2025, Ini Pemicunya!
Bisnis Internasional Energi Terbarukan Industri Otomotif Lingkungan Teknologi Hijau
Ferrari Luce Terjual Habis di China: Mengapa Sedan Listrik Pertama Kuda Jingkrak Ini Begitu Kontroversial Namun Tetap Diburu?
Bisnis Internasional Industri Otomotif Masa Depan Mobil Listrik Teknologi Otomotif
Epidemi Pencurian di Giga Nevada: Jutaan Dolar Baterai Tesla Raib Digasak Sindikat Kargo dalam Operasi Berantai
Bisnis Internasional Industri Otomotif Teknologi
Rahasia Estetika Leonardo Borazio: Mengapa Sentuhan Lukisan Klasik Menjadi Kunci Masa Depan Concept Art di Industri Game dan Film
Desain Produk Digital Entertainment Industri Game Industri Kreatif Inovasi
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Quick Link

  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise

Support

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

HeryArts NewsHeryArts News
Follow US
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
Join Us!

Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?