By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
HeryArts NewsHeryArts NewsHeryArts News
  • Home
  • Tech News
    Tech NewsShow More
    Jangan Sampai Menyesal! Samsung Galaxy S26 Plus Turun Harga Drastis di Prime Day 2026, Penawaran Terendah Sepanjang Masa
    12 Min Read
    Akhirnya Diperbaiki! Google Luncurkan Patch Resmi untuk Atasi Gangguan SiriusXM di Berbagai Smart Speaker Nest
    9 Min Read
    Jam-Jam Terakhir Amazon Prime Day 2026: Apple Naikkan Harga Resmi, Tapi Amazon Masih Obral AirPods dan MacBook di Harga Terendah!
    12 Min Read
    Netflix Makin Merepotkan! Kebijakan Baru Wajibkan Setiap Profil Punya Email Unik: Akhir dari Era Berbagi Akun yang Nyaman?
    12 Min Read
    3 Serial HBO Max Paling Underrated dengan Skor Rotten Tomatoes 100% yang Wajib Anda Tonton Akhir Pekan Ini
    10 Min Read
  • AI News
    AI NewsShow More
    Menguak Tabir Debat AI Safety: Mengapa Diskusi Sebenarnya Tentang Keamanan Kecerdasan Buatan Justru Tenggelam dalam Hiruk-Pikuk Industri?
    13 Min Read
    AS Perketat Kendali AI: Setelah Anthropic, Kini Giliran GPT-5.6 OpenAI yang Terkena Pembatasan Pemerintahan Trump
    9 Min Read
    Rahasia Skalabilitas Model AI Raksasa: Mengenal Micro-DDP, Teknik Distribusi Beban Kerja yang Mengubah Aturan Main
    11 Min Read
    ElevenLabs Adopsi Google SynthID: Solusi Mutakhir Deteksi Deepfake Audio yang Semakin Sulit Dibedakan dari Suara Manusia Asli
    9 Min Read
    Terobosan MRAgent: Framework Memori AI Baru yang Mampu Memangkas Konsumsi Token Hingga 96 Persen
    12 Min Read
  • Mobile
    MobileShow More
    Revolusi Digital Detox: Aplikasi UltraPod Ubah iPhone Canggih Menjadi ‘Dumbphone’ Musik Bergaya iPod Retro
    10 Min Read
    Lupakan iPhone 13 Mini! Enough Phone Hadir Sebagai Smartphone Super Kompak 5.2 Inci dengan Baterai Monster dan Desain Modular
    10 Min Read
    Commodore Callback 8020: Ponsel Flip Retro yang Picu Kontroversi Harga, Akhirnya Menyerah pada Tekanan Pasar?
    10 Min Read
    Vivo X Fold6 Resmi Meluncur: Baterai Monster 7.000 mAh dan Layar 5.000 Nits Siap Tumbangkan Dominasi Samsung Galaxy Z Fold7 di Pasar Global
    11 Min Read
    Rahasia di Balik Konkurensi Dart: Mengapa Banyak Developer Flutter Salah Paham Soal Event Loop, Streams, dan Isolates?
    8 Min Read
  • Gadget
    GadgetShow More
    Diskon Gila 46%! Samsung Galaxy Tab A11 Plus Jadi Primadona Prime Day: Teman Perjalanan Digital Paling Sempurna?
    10 Min Read
    Lupakan Google Home! Amazon Echo Studio Banting Harga $45, Tawarkan Kualitas Audio Premium dan Fitur Alexa Tercanggih Saat Ini
    11 Min Read
    Update Perdana Fitbit Air Resmi Meluncur: Google Siapkan Perbaikan Besar untuk Masalah Awal yang Dikeluhkan Pengguna
    9 Min Read
    Apple Naikkan Harga iPad Air Secara Signifikan, Tablet Samsung Ini Muncul Sebagai Solusi Hemat dengan Potongan Harga Gila-gilaan!
    11 Min Read
    Bosan dengan Layar Raksasa? Inilah Deretan Smartphone Kecil Terbaik yang Sedang Diskon Besar Minggu Ini!
    11 Min Read
  • Software
    SoftwareShow More
    Rindu Sensasi Kertas? Aplikasi Paperman Ubah Layar Mac dan Windows Jadi Bertekstur Analog yang Nyaman di Mata
    8 Min Read
    Transformasi Sempurna: Cara Mengubah Tampilan Linux Menjadi Windows 11 Secara Gratis Hanya dengan Zorin OS
    13 Min Read
    Akrites: Koalisi Raksasa Teknologi Dunia Bersatu Lindungi Open-Source dari Ancaman Eksploitasi Berbasis AI
    10 Min Read
    Intel ISPC 1.31 Resmi Meluncur: Siapkan Karpet Merah untuk Nova Lake dan Kejutan Dukungan PowerPC 64-bit
    10 Min Read
    Revolusi Performa Grafis Linux: Intel Resmi Aktifkan Descriptor Heaps Secara Default pada Driver Vulkan ANV
    11 Min Read
  • Gaming
    GamingShow More
    Gebrakan Gigabyte Aero X16: Laptop Gaming Monster dengan RTX 5060 dan Ryzen AI 7 350 Kini Diskon 21%!
    10 Min Read
    PC Gaming 4K Impian Jadi Nyata! iBuyPower Y40 dengan Ryzen 7 9800X3D dan RX 9070 XT Diskon Drastis $750
    13 Min Read
    Halo Campaign Evolved Siap Gebrak Industri: Remake Ambisius yang Mempertahankan Seluruh Konten Orisinal dengan Sentuhan Modern Shooter
    10 Min Read
    Revolusi Gaming di Linux: DXVK 3.0 Resmi Rilis dengan Pembaruan Shader DXBC-SPIRV dan Performa Lebih Stabil!
    16 Min Read
    Panduan Lengkap Membuka Easter Egg Song ‘Evencry’ di Map Kowakujo Black Ops 7 Zombies: Lokasi Rahasia Headset Mister Peeks Terungkap!
    11 Min Read
  • Education
    EducationShow More
    Pelajaran Berharga dari Toy Story 5: Mengapa Anda Harus Memberi Anak Kindle Kids Edition dan Bukan Tablet ‘Brainrot’ di Prime Day Kali Ini
    10 Min Read
    PaperTok: Inovasi AI Peneliti University of Washington yang Ubah Jurnal Ilmiah Menjadi Video ala TikTok
    11 Min Read
    Mosyle@Home Hadir Sebagai Solusi Revolusioner Manajemen Screen Time iPad dan Mac Sekolah untuk Orang Tua
    9 Min Read
    Avmira Raih Skor Proof of Usefulness 21.71: Revolusi Platform Edukasi Digital Berbasis AI untuk Developer Masa Depan
    14 Min Read
    Revolusi Pendidikan Prabowo: Dari Sekolah Rakyat ke Era Digital, Strategi Besar Cetak SDM Unggul Indonesia
    11 Min Read
Search
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
Reading: Fenomena Viral Ustazah AI @nia.hajar_s di TikTok: Mengapa Kehadiran Pendakwah Virtual Picu Keresahan Massal dan Perdebatan Etika Digital?
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
HeryArts NewsHeryArts News
Font ResizerAa
  • Home
  • Tech News
  • AI News
  • Mobile
  • Gadget
  • Software
  • Gaming
  • Education
Search
  • Home
  • Tech News
  • AI News
  • Mobile
  • Gadget
  • Software
  • Gaming
  • Education
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
HeryArts News > Blog > Artificial Intelligence > Fenomena Viral Ustazah AI @nia.hajar_s di TikTok: Mengapa Kehadiran Pendakwah Virtual Picu Keresahan Massal dan Perdebatan Etika Digital?
Artificial IntelligenceEtika DigitalGaya Hidup DigitalMedia SosialTeknologi

Fenomena Viral Ustazah AI @nia.hajar_s di TikTok: Mengapa Kehadiran Pendakwah Virtual Picu Keresahan Massal dan Perdebatan Etika Digital?

Last updated: June 26, 2026 6:31 pm
heryarts
Share
SHARE

Dunia maya Indonesia baru-baru ini diguncang oleh kemunculan sebuah akun TikTok dengan nama pengguna @nia.hajar_s yang menampilkan sosok perempuan berhijab dengan tutur kata lembut dan penuh pesan religius. Awalnya, banyak pengguna yang mengira bahwa sosok tersebut adalah manusia asli yang sedang berbagi ilmu keagamaan melalui platform video pendek tersebut secara tulus. Namun, seiring berjalannya waktu, kecurigaan mulai muncul dari para warganet yang jeli memperhatikan detail-detail kecil yang dirasa tidak wajar pada gerakan wajah dan sinkronisasi suara yang dihasilkan. Hingga akhirnya, terungkaplah sebuah fakta mengejutkan bahwa sosok tersebut bukanlah manusia berdarah dan berdaging, melainkan hasil rekayasa teknologi Artificial Intelligence yang sangat canggih. Fenomena “Ustazah AI” ini pun seketika menjadi buah bibir dan memicu perdebatan panas mengenai masa depan konten digital di tanah air yang semakin sulit dibedakan antara realitas dan simulasi.

Contents
Fenomena @nia.hajar_s: Ketika Algoritma Mulai BerdakwahKeresahan Warganet: Siapa yang Bertanggung Jawab Atas Fatwa AI?Sisi Teknis di Balik Layar: Bagaimana Sosok Virtual Diciptakan?Perbandingan Global: Tren Virtual Influencer dan Batasan MoralUrgensi Literasi Digital di Tengah Gempuran Konten Generative AIMasa Depan Otoritas Keagamaan di Era Kecerdasan Buatan

Keresahan yang timbul di kalangan masyarakat bukan sekadar masalah estetika atau kekaguman terhadap teknologi semata, melainkan menyentuh aspek yang jauh lebih mendalam yaitu akuntabilitas. Dalam konteks ajaran agama, sumber ilmu dan kredibilitas pengajar adalah hal yang sangat fundamental bagi para pengikutnya. Ketika seorang tokoh agama yang diikuti ternyata hanyalah sekumpulan algoritma, muncul pertanyaan besar mengenai siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas substansi pesan yang disampaikan. Belum ada konfirmasi resmi mengenai siapa individu atau kelompok di balik pembuatan akun @nia.hajar_s tersebut, namun dampaknya telah menciptakan riak kekhawatiran yang luas. Masyarakat kini mulai mempertanyakan apakah kita sedang memasuki era di mana otoritas moral dan spiritual bisa dipalsukan demi kepentingan konten atau popularitas semata.

Fenomena @nia.hajar_s: Ketika Algoritma Mulai Berdakwah

Munculnya akun @nia.hajar_s menandai babak baru dalam penggunaan Generative AI di Indonesia, khususnya dalam ranah yang sangat sensitif seperti konten religi. Akun ini berhasil menarik perhatian ribuan pengikut dalam waktu singkat karena penampilannya yang terlihat sangat manusiawi dan pesan-pesannya yang menyejukkan hati. Banyak warganet yang awalnya merasa terinspirasi oleh konten-konten yang diunggah, tanpa menyadari bahwa mereka sedang berinteraksi dengan produk digital. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh visual yang dihasilkan oleh teknologi kecerdasan buatan dalam memengaruhi persepsi manusia modern. Keberhasilan akun ini dalam “menipu” mata banyak orang menjadi bukti bahwa teknologi Deepfake dan sintesis suara telah mencapai level yang sangat mengkhawatirkan jika tidak dibarengi dengan literasi digital yang mumpuni.

Identitas asli dari sosok di balik layar tetap menjadi misteri yang memicu spekulasi liar di kolom komentar setiap unggahannya. Beberapa warganet mencoba melakukan investigasi mandiri dengan menganalisis tekstur kulit dan kedipan mata yang dianggap terlalu statis untuk ukuran manusia normal. Meskipun teknologi yang digunakan sangat rapi, batas antara kemanusiaan dan robotika masih menyisakan celah kecil yang bisa dideteksi oleh mereka yang terbiasa dengan konten-konten berbasis Kecerdasan Buatan. Keresahan ini semakin memuncak ketika konten tersebut mulai dibagikan secara luas di platform lain seperti WhatsApp, di mana audiensnya mungkin memiliki tingkat pemahaman teknologi yang lebih rendah. Hal ini berpotensi menciptakan kesalahpahaman massal yang sulit dikendalikan oleh otoritas terkait jika terus dibiarkan tanpa pengawasan.

Keresahan Warganet: Siapa yang Bertanggung Jawab Atas Fatwa AI?

Salah satu poin utama yang menjadi keberatan warganet adalah mengenai aspek tanggung jawab moral atau akuntabilitas dari konten yang dihasilkan. Dalam tradisi keagamaan, seorang guru atau pendakwah harus memiliki sanad atau silsilah keilmuan yang jelas serta perilaku yang bisa dipertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat. Penggunaan Ustazah AI dianggap mereduksi nilai-nilai spiritualitas menjadi sekadar komoditas digital yang diproses oleh mesin tanpa memiliki pemahaman batiniah. Banyak komentar yang menyatakan ketakutan bahwa AI bisa saja salah dalam mengutip ayat atau memberikan interpretasi yang keliru tanpa ada sosok nyata yang bisa dimintai klarifikasi. Ketidakpastian ini menciptakan rasa tidak aman bagi mereka yang mencari bimbingan spiritual secara daring di tengah banjir informasi yang tidak terverifikasi.

  • Akuntabilitas Konten: Tidak adanya sosok nyata yang bisa dimintai pertanggungjawaban jika terjadi kesalahan informasi atau penyesatan logika dalam konten religi.
  • Kredibilitas Sumber: Kekhawatiran bahwa algoritma hanya mengumpulkan data dari internet tanpa mempedulikan kesahihan sumber asli dalam literatur keagamaan.
  • Manipulasi Emosi: Penggunaan visual yang menarik dan suara yang menenangkan untuk memanipulasi perasaan audiens demi tujuan tertentu, seperti monetisasi atau propaganda.
  • Dehumanisasi Dakwah: Hilangnya sentuhan kemanusiaan dan empati yang seharusnya menjadi inti dari penyampaian pesan-pesan moral dan spiritual.

Sisi Teknis di Balik Layar: Bagaimana Sosok Virtual Diciptakan?

Secara teknis, pembuatan persona seperti @nia.hajar_s melibatkan kombinasi beberapa teknologi Artificial Intelligence yang bekerja secara simultan. Pertama, ada penggunaan model generatif gambar untuk menciptakan wajah yang konsisten namun unik, yang seringkali didasarkan pada ribuan referensi wajah manusia nyata. Kemudian, teknologi Deepfake digunakan untuk memetakan gerakan wajah tersebut ke dalam sebuah video referensi aktor asli agar terlihat lebih hidup. Proses ini sangat rumit dan membutuhkan daya komputasi yang tidak sedikit untuk menghasilkan gerakan bibir yang sinkron dengan suara atau lip-sync yang akurat. Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai perangkat lunak spesifik yang digunakan oleh pembuat akun tersebut, namun tren global menunjukkan penggunaan alat seperti HeyGen atau Synthesia untuk tujuan serupa.

Selain aspek visual, elemen suara juga memegang peranan krusial dalam membangun kepercayaan audiens terhadap sosok Ustazah AI ini. Teknologi Text-to-Speech (TTS) yang sudah ditingkatkan dengan Neural Networks memungkinkan pembuatan suara yang memiliki intonasi, jeda, dan emosi yang sangat mirip dengan manusia. Algoritma ini belajar dari ribuan jam rekaman suara pendakwah asli untuk meniru gaya bicara yang persuasif dan otoritatif. Hal inilah yang membuat banyak orang terkecoh, karena suara yang dihasilkan tidak lagi terdengar kaku seperti robot pada dekade sebelumnya. Integrasi antara visual yang menawan dan suara yang meyakinkan menciptakan sebuah ilusi kehadiran manusia yang sangat kuat, yang kini menjadi tantangan baru bagi para pakar keamanan siber dan etika digital.

“Kehadiran AI dalam ranah religi seperti ini adalah pedang bermata dua; ia bisa menjadi alat bantu edukasi yang efisien, namun tanpa transparansi, ia hanyalah sebuah penipuan digital yang mencederai nilai-nilai kepercayaan masyarakat.”

Perbandingan Global: Tren Virtual Influencer dan Batasan Moral

Fenomena pendakwah virtual sebenarnya merupakan ekstensi dari tren Virtual Influencer yang sudah lebih dulu populer di negara-negara seperti China, Jepang, dan Amerika Serikat. Di China, penggunaan presenter berita berbasis AI atau karakter fiksi yang berinteraksi dengan penggemar sudah menjadi hal yang lumrah dalam industri hiburan dan pemasaran. Namun, perbedaan mendasar terletak pada konteks penggunaannya; di luar negeri, sosok virtual biasanya digunakan untuk tujuan hiburan, mode, atau layanan pelanggan yang bersifat teknis. Ketika teknologi ini dibawa ke ranah keagamaan di Indonesia, benturan budaya dan nilai menjadi tidak terhindarkan karena agama dianggap sebagai wilayah suci yang menuntut kejujuran dan ketulusan mutlak dari pelakunya.

Jika dibandingkan dengan kompetitor atau teknologi sebelumnya, Ustazah AI ini jauh lebih maju dalam hal detail visual dibandingkan karakter 3D sederhana yang digunakan beberapa tahun lalu. Teknologi sekarang mampu menghasilkan pori-pori kulit, pantulan cahaya pada mata, hingga helai rambut atau kain hijab yang bergerak secara natural. Namun, kecanggihan ini justru menjadi bumerang bagi kepercayaan publik ketika tidak ada label yang jelas bahwa konten tersebut adalah hasil buatan AI. Di beberapa negara maju, sudah mulai ada regulasi yang mewajibkan setiap konten hasil Kecerdasan Buatan untuk mencantumkan watermark atau pernyataan transparan. Indonesia sendiri masih dalam tahap awal dalam merumuskan kebijakan terkait Etika AI, sehingga fenomena seperti ini seringkali berada di area abu-abu hukum dan etika.

Urgensi Literasi Digital di Tengah Gempuran Konten Generative AI

Kasus viralnya @nia.hajar_s menjadi alarm keras bagi seluruh lapisan masyarakat mengenai pentingnya meningkatkan Literasi Digital. Kita tidak lagi bisa mempercayai apa yang kita lihat dan dengar secara mentah-mentah di media sosial, terlepas dari seberapa religius atau meyakinkannya konten tersebut. Masyarakat perlu diedukasi untuk melakukan verifikasi silang terhadap akun-akun yang mencurigakan, seperti memeriksa keaslian profil, mencari rekam jejak di platform lain, dan memperhatikan detail teknis yang mungkin terlewatkan. Tanpa kemampuan berpikir kritis, warganet akan sangat mudah menjadi korban manipulasi informasi yang bisa berdampak pada perpecahan sosial atau bahkan kerugian finansial jika akun-asli tersebut disalahgunakan untuk kepentingan penipuan.

Dampak jangka panjang dari kehadiran pendakwah AI ini juga bisa memengaruhi industri kreatif dan para pendakwah nyata. Ada kekhawatiran bahwa konten-konten instan buatan AI akan menggeser peran para ahli agama yang telah menempuh pendidikan bertahun-tahun karena kalah dalam hal estetika visual dan frekuensi unggahan. Hal ini bisa menciptakan ekosistem digital yang dangkal, di mana popularitas lebih dihargai daripada kedalaman ilmu. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, platform media sosial seperti TikTok, dan para tokoh masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan standar baru dalam penyebaran konten religi yang sehat dan transparan di era Transformasi Digital ini.

Masa Depan Otoritas Keagamaan di Era Kecerdasan Buatan

Melihat ke depan, fenomena seperti Ustazah AI diprediksi akan semakin sering muncul dengan kualitas yang lebih sempurna dan sulit dideteksi. Kita mungkin akan melihat integrasi AI yang lebih dalam, di mana chatbot pintar bisa menjawab pertanyaan keagamaan secara real-time dengan wajah virtual yang sangat realistis. Namun, tantangan terbesarnya tetap pada bagaimana menjaga integritas pesan dan kepercayaan umat. Teknologi seharusnya diposisikan sebagai alat bantu (tools), bukan sebagai pengganti otoritas manusia yang memiliki nurani dan moralitas. Belum ada konfirmasi resmi mengenai langkah apa yang akan diambil oleh otoritas keagamaan di Indonesia untuk merespons hal ini, namun diskusi mengenai fatwa penggunaan AI dalam dakwah tampaknya sudah mulai mendesak untuk dilakukan.

Sebagai penutup, kasus @nia.hajar_s adalah pengingat bahwa di balik kecanggihan teknologi, selalu ada tanggung jawab etis yang harus dipikul. Media sosial harus tetap menjadi tempat yang aman dan jujur bagi setiap penggunanya untuk mencari ilmu dan inspirasi. Ke depannya, diharapkan para pengembang teknologi dan kreator konten lebih mengedepankan transparansi dengan memberikan label yang jelas pada setiap karya Artificial Intelligence mereka. Dengan demikian, keresahan masyarakat dapat diminimalisir, dan teknologi kecerdasan buatan dapat benar-benar memberikan manfaat positif bagi kemajuan peradaban manusia tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kejujuran dan spiritualitas yang kita junjung tinggi.

You Might Also Like

Revolusi AI 2026: 10 Paper Hugging Face Paling Fenomenal yang Mengubah Robotika, Video 4D, dan Memori Pintar!

Diskon Gila 46%! Samsung Galaxy Tab A11 Plus Jadi Primadona Prime Day: Teman Perjalanan Digital Paling Sempurna?

Lupakan Google Home! Amazon Echo Studio Banting Harga $45, Tawarkan Kualitas Audio Premium dan Fitur Alexa Tercanggih Saat Ini

Bosan dengan Layar Raksasa? Inilah Deretan Smartphone Kecil Terbaik yang Sedang Diskon Besar Minggu Ini!

Kesempatan Terakhir! Sembilan Produk Android Paling Populer Ini Segera Habis dalam Hitungan Jam dengan Penawaran Harga Fantastis

TAGGED:#AI#Deepfake#Hoax#TikTokDigital PrivacyEtika AIGaya Hidup DigitalGenerative AIInfo TeknologiInovasi TeknologiKecerdasan buatanLiterasi DigitalMasa DepanMedia SosialTeknologi Terbaru

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Share
Previous Article Waspada! OJK Bongkar Modus Baru Penipuan Online yang Incar Penggemar Drama China: Kenali Ciri dan Cara Menghindarinya
Next Article Waspada Cuaca Ekstrem! BMKG Rilis Peringatan Dini Potensi Hujan di 15 Wilayah Indonesia Hari Ini Jumat 26 Juni
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Stay Connected

248.1kLike
54.3kFollow
10.3kSubscribe
39.5kFollow
banner banner
Create an Amazing Newspaper
Discover thousands of options, easy to customize layouts, one-click to import demo and much more.
Learn More

Latest News

Update Perdana Fitbit Air Resmi Meluncur: Google Siapkan Perbaikan Besar untuk Masalah Awal yang Dikeluhkan Pengguna
Android Gadget Google Teknologi Wearable Update Teknologi
Apple Naikkan Harga iPad Air Secara Signifikan, Tablet Samsung Ini Muncul Sebagai Solusi Hemat dengan Potongan Harga Gila-gilaan!
Apple Berita Teknologi Bisnis Gadget Samsung
Pelajaran Berharga dari Toy Story 5: Mengapa Anda Harus Memberi Anak Kindle Kids Edition dan Bukan Tablet ‘Brainrot’ di Prime Day Kali Ini
Belanja Online Education Technology Edukasi Masyarakat Gadget Gaya Hidup Digital
Strategi Baru Netflix: Uji Coba Login Email Per Profil Picu Kekhawatiran Kiamat Berbagi Akun Makin Nyata
Bisnis Internasional Gaya Hidup Digital Hiburan Digital Keamanan Siber Teknologi
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Quick Link

  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise

Support

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

HeryArts NewsHeryArts News
Follow US
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
Join Us!

Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?