Dunia desain antarmuka digital saat ini tidak lagi hanya soal estetika visual, melainkan seberapa cepat sebuah desain bisa diterjemahkan menjadi baris kode yang fungsional bagi para pengembang. Selama satu bulan penuh, kami melakukan eksperimen mendalam untuk membandingkan fitur ekspor kode antara raksasa industri Figma dan penantang open-source yang sedang naik daun, Penpot. Hasil yang ditemukan cukup mengejutkan karena menunjukkan perbedaan fundamental dalam cara kedua platform ini memandang hubungan antara desainer dan pengembang perangkat lunak. Meskipun keduanya bertujuan mempermudah proses serah terima desain atau handoff, pendekatan teknis yang mereka ambil sangat bertolak belakang. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa perbedaan ini begitu signifikan bagi masa depan industri teknologi dan bagaimana hal itu memengaruhi produktivitas tim pengembang.
Sebelum masuk ke detail teknis, penting untuk memahami posisi pasar kedua perangkat lunak ini di ekosistem desain global saat ini. Figma telah lama menjadi standar emas bagi perusahaan teknologi besar berkat fitur kolaborasinya yang sangat mulus dan ekosistem plugin yang masif. Namun, munculnya Penpot sebagai alternatif open source pertama yang berbasis SVG memberikan angin segar bagi mereka yang menginginkan transparansi dan kompatibilitas kode yang lebih alami. Pertarungan ini bukan sekadar soal fitur tambahan, melainkan soal filosofi bagaimana sebuah produk digital seharusnya dibangun dari tahap nol hingga tahap produksi. Belum ada konfirmasi resmi mengenai apakah salah satu alat ini akan mendominasi pasar sepenuhnya, namun tren menunjukkan pergeseran ke arah alat yang lebih ramah pengembang.
Filosofi di Balik Ekspor Kode: SVG-Native vs Format Proprietary
Salah satu perbedaan paling mencolok yang ditemukan selama satu bulan pengujian adalah dasar teknologi yang digunakan oleh masing-masing alat dalam merender elemen. Penpot dibangun sepenuhnya di atas standar terbuka SVG, yang berarti setiap elemen yang Anda buat di kanvas desain sudah memiliki representasi kode yang standar secara internasional. Hal ini berbeda dengan Figma yang menggunakan format proprietary, di mana mereka harus melakukan proses “penerjemahan” tambahan untuk mengubah elemen visual menjadi CSS atau kode Swift dan Kotlin. Akibatnya, kode yang dihasilkan oleh Penpot seringkali terasa lebih mentah namun jauh lebih jujur terhadap struktur web yang sebenarnya dibandingkan hasil ekspor Figma.
Perbedaan filosofis ini berdampak langsung pada kualitas output kode yang bisa disalin oleh para pengembang di bagian frontend development. Dalam ekosistem Figma, pengembang seringkali harus bergantung pada fitur Dev Mode yang canggih namun kini memerlukan biaya berlangganan tambahan yang cukup signifikan bagi tim besar. Di sisi lain, Penpot menawarkan aksesibilitas yang sama luasnya bagi desainer maupun pengembang tanpa ada batasan paywall yang menghalangi kolaborasi teknis. Hal ini menciptakan dinamika kerja yang berbeda, di mana tim yang menggunakan Penpot cenderung merasa lebih setara dalam mengakses informasi teknis dari sebuah desain tanpa hambatan finansial.
Integrasi Standar Web yang Lebih Mendalam
Dengan menggunakan standar SVG, Penpot memastikan bahwa apa yang dilihat oleh desainer adalah apa yang akan didapatkan oleh pengembang dalam bentuk kode. Tidak ada lagi interpretasi ganda atau perbedaan rendering antara alat desain dan browser karena keduanya berbicara dalam bahasa yang sama. Hal ini memberikan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi bagi pengembang saat melakukan implementasi awal komponen antarmuka yang kompleks. Figma, meskipun sangat akurat secara visual, terkadang menghasilkan kode CSS yang terlalu spesifik atau kaku, sehingga memerlukan pembersihan manual sebelum layak masuk ke repositori kode produksi.
Keunggulan Teknis Penpot: Dominasi Flexbox dan CSS Grid
Selama masa pengujian, fitur yang paling menonjol dari Penpot adalah kemampuannya dalam menangani tata letak menggunakan Flexbox dan CSS Grid secara native. Tidak seperti alat desain tradisional yang memposisikan elemen berdasarkan koordinat absolut (X dan Y), Penpot memaksa desainer untuk berpikir layaknya seorang pengembang sejak awal proses kreatif. Hal ini sangat krusial karena hampir semua situs web modern dibangun menggunakan struktur grid yang fleksibel agar tetap responsif di berbagai ukuran layar. Dengan menggunakan Penpot, baris kode yang diekspor sudah mencerminkan struktur layout yang siap pakai tanpa perlu banyak modifikasi logika tata letak.
Pengalaman ini sangat kontras jika dibandingkan dengan bagaimana Figma menangani tata letak otomatis melalui fitur populernya, Auto Layout. Meskipun Auto Layout milik Figma sangat kuat dan intuitif bagi desainer, hasil kodenya terkadang masih terasa seperti simulasi dari CSS Flexbox yang belum sempurna. Pengembang seringkali masih harus melakukan penyesuaian logika saat memindahkan desain tersebut ke dalam framework modern seperti React atau Vue. Penpot berhasil menjembatani celah ini dengan memberikan kontrol yang lebih granular terhadap properti CSS langsung di dalam antarmuka desainnya, sehingga mengurangi beban kerja pengembang di tahap akhir.
Fleksibilitas Layout untuk Responsivitas Tinggi
Kemampuan untuk mengatur CSS Grid langsung di dalam alat desain adalah sebuah lompatan besar bagi efisiensi kerja tim digital. Desainer di Penpot dapat menentukan kolom dan baris grid yang secara otomatis akan diterjemahkan menjadi kode grid CSS yang bersih dan efisien. Di Figma, meskipun ada grid visual, ia tidak selalu berkorelasi langsung dengan properti display: grid di CSS saat diekspor melalui Dev Mode. Perbedaan teknis yang mendalam ini membuat Penpot menjadi pilihan yang sangat menarik bagi tim yang sangat mengutamakan kualitas kode frontend yang rapi dan mudah dipelihara.
Figma Dev Mode: Kecanggihan yang Dibatasi oleh Paywall
Tidak bisa dipungkiri bahwa Figma tetap memiliki keunggulan dalam hal kematangan fitur melalui Figma Dev Mode yang baru saja diperbarui. Selama sebulan penggunaan, fitur ini terbukti sangat membantu dalam memberikan inspeksi elemen yang sangat mendalam, mulai dari variabel warna hingga dokumentasi komponen yang terintegrasi. Figma mampu menyajikan informasi ini dalam format yang sangat rapi dan mudah dipahami bahkan oleh pengembang junior sekalipun. Namun, masalah utama muncul ketika kebijakan monetisasi terbaru mewajibkan lisensi khusus hanya untuk mengakses fitur esensial bagi pengembang ini.
Keputusan Figma untuk menempatkan fitur inspeksi kode di balik paywall telah memicu perdebatan hangat di komunitas Software Engineering global. Banyak tim kecil dan startup mulai melirik Penpot sebagai solusi yang lebih ekonomis namun tetap sangat kompetitif secara teknis. Dalam pengujian kami, ketergantungan pada lisensi berbayar ini menjadi hambatan bagi kolaborasi lintas departemen yang biasanya bersifat cair dan inklusif. Penpot, dengan model open source, memungkinkan setiap anggota tim untuk berkontribusi dan melihat spesifikasi teknis tanpa rasa khawatir akan pembengkakan biaya operasional bulanan.
Dampak Nyata Terhadap Workflow dan Efisiensi Tim
Perbedaan dalam ekspor kode ini membawa dampak nyata pada kecepatan iterasi produk di dalam sebuah tim pengembang perangkat lunak. Pengembang yang menggunakan hasil ekspor dari Penpot melaporkan bahwa mereka menghabiskan lebih sedikit waktu untuk menebak-nebak maksud desainer terkait responsivitas layar. Hal ini dikarenakan struktur kode yang dihasilkan sudah mengikuti logika pengembangan web standar sejak awal proses kreatif dimulai. Efisiensi ini sangat terasa pada proyek-proyek berskala besar yang memiliki ratusan komponen antarmuka yang kompleks dan membutuhkan konsistensi tinggi.
Namun, bagi tim yang sudah sangat terintegrasi dengan ekosistem Adobe atau menggunakan banyak plugin khusus, Figma tetap menjadi pilihan yang sulit untuk ditinggalkan begitu saja. Ekosistem plugin Figma yang luas memungkinkan otomatisasi yang belum bisa ditandingi oleh Penpot saat ini, seperti integrasi langsung dengan Jira atau sinkronisasi token desain secara otomatis. Pilihan antara keduanya seringkali bergantung pada apakah tim lebih memprioritaskan kemurnian kode atau kelengkapan ekosistem pendukung yang sudah mapan. Belum ada konfirmasi resmi mengenai kapan Penpot akan memiliki ekosistem plugin seluas pesaing utamanya tersebut.
Kolaborasi Desainer dan Developer yang Lebih Erat
“Kunci dari produk digital yang sukses bukan hanya pada desain yang indah, tetapi pada seberapa lancar desain tersebut berubah menjadi kode yang stabil.”
Kutipan tersebut mencerminkan inti dari eksperimen kami selama sebulan ini, di mana komunikasi antara desainer dan pengembang menjadi lebih lancar saat bahasa yang digunakan seragam. Penpot secara tidak langsung mendidik desainer untuk memahami batasan dan kemampuan CSS, sementara Figma memberikan kenyamanan visual yang luar biasa dengan bantuan alat inspeksi yang sangat mendalam. Keduanya memiliki nilai tambah tersendiri dalam meningkatkan Developer Experience, tergantung pada bagaimana tim tersebut mendefinisikan standar kualitas mereka sendiri.
Perbandingan Head-to-Head: Mana yang Lebih Akurat?
Jika kita berbicara soal akurasi visual, kedua alat ini mampu memberikan hasil yang hampir identik di mata pengguna akhir atau klien. Namun, jika kita melihat lebih dalam ke struktur kode, akurasi kode Penpot seringkali lebih unggul dalam konteks pengembangan web modern yang mengutamakan performa. Penpot tidak mencoba untuk menyederhanakan CSS demi estetika, melainkan memberikan apa adanya sesuai standar W3C yang berlaku. Hal ini mengurangi risiko terjadinya kesalahan interpretasi atau lost in translation antara apa yang dilihat desainer di layar dan apa yang diimplementasikan pengembang di browser.
Di sisi lain, Figma memiliki keunggulan yang belum tertandingi dalam menangani desain untuk platform mobile native seperti iOS dan Android. Fitur ekspor kode untuk SwiftUI dan Jetpack Compose di Figma terasa lebih dipoles dan disesuaikan dengan pedoman desain masing-masing platform milik Apple dan Google. Bagi perusahaan yang fokus utamanya adalah aplikasi mobile native, Figma mungkin masih memegang kendali atas efisiensi workflow mereka. Penpot saat ini masih terlihat lebih mengoptimalkan pengalamannya untuk platform berbasis web, meskipun mereka terus melakukan pembaruan untuk mendukung ekosistem yang lebih luas.
Masa Depan Alat Desain: Menuju Konvergensi Kode
Tren ke depan menunjukkan bahwa batas antara alat desain visual dan alat pengembangan kode akan semakin kabur atau mengalami konvergensi. Inovasi yang dibawa oleh Penpot dengan pendekatan native terhadap teknologi web telah memaksa pemain besar seperti Figma untuk terus berinovasi agar tidak kehilangan relevansi di mata para pengembang. Kita mungkin akan melihat lebih banyak alat desain yang mengadopsi logika pemrograman langsung ke dalam kanvas visual mereka di masa depan. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi industri secara keseluruhan karena akan mengurangi gesekan teknis dan mempercepat waktu peluncuran produk ke pasar atau time-to-market.
Selain itu, peran Artificial Intelligence (AI) juga diprediksi akan memainkan peran besar dalam menyempurnakan fitur ekspor kode ini di kedua platform. Baik Figma maupun Penpot sudah mulai bereksperimen dengan AI untuk membantu menghasilkan kode yang lebih bersih, aksesibel, dan efisien dari sebuah tangkapan layar atau sketsa desain. Meskipun fitur ini belum sepenuhnya matang selama bulan pengujian kami, potensinya untuk mengubah cara kerja desainer dan pengembang sangatlah besar. Ke depannya, alat desain mungkin tidak hanya mengekspor potongan kode, tetapi seluruh arsitektur komponen yang siap pakai dan teruji secara otomatis.
Sebagai kesimpulan dari eksperimen panjang ini, pengalaman satu bulan membandingkan Penpot dan Figma membuka mata kami bahwa tidak ada pemenang mutlak yang cocok untuk semua orang. Penpot adalah juara bagi mereka yang mengutamakan standar terbuka, efisiensi kode web, dan transparansi biaya kolaborasi dalam jangka panjang. Sementara itu, Figma tetap menjadi raksasa yang sulit dikalahkan dalam hal kelengkapan ekosistem, kemudahan penggunaan bagi desainer murni, dan dukungan untuk pengembangan aplikasi mobile native. Bagi organisasi teknologi, keputusan untuk memilih salah satu dari keduanya harus didasarkan pada evaluasi mendalam terhadap workflow internal, anggaran perusahaan, dan visi jangka panjang pengembangan produk digital mereka.



