By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
HeryArts NewsHeryArts NewsHeryArts News
  • Home
  • Tech News
    Tech NewsShow More
    Review Mendalam Bitdefender VPN: Kecepatan Kilat dengan Harga Terjangkau, Namun Apakah Cukup Aman bagi Pengguna Ahli?
    12 Min Read
    Revolusi Mesin Slushie 2026: Ninja Slushi Resmi Digantikan, Kini Hadir dengan Fitur Soft Serve dan Pendinginan Kilat!
    12 Min Read
    Bocoran Eksklusif Galaxy Z Fold 8 Wide: Revolusi Desain Layar Lipat Samsung Terungkap Melalui Gambar Case Terbaru
    9 Min Read
    Mengenal Bill Savitt: Pengacara Jenius yang Berhasil Menundukkan Elon Musk Dua Kali di Meja Hijau
    10 Min Read
    Hitachi Energy Bangun Pabrik Transformator Terbesar di AS: Strategi Raksasa Demi Menopang Ledakan Kebutuhan Listrik AI
    11 Min Read
  • AI News
    AI NewsShow More
    Dilema Kecerdasan Buatan: Mengapa Model AI Kecil Kini Mulai Mengancam Dominasi Frontier Models yang Raksasa?
    12 Min Read
    Menguak Tabir Debat AI Safety: Mengapa Diskusi Sebenarnya Tentang Keamanan Kecerdasan Buatan Justru Tenggelam dalam Hiruk-Pikuk Industri?
    13 Min Read
    AS Perketat Kendali AI: Setelah Anthropic, Kini Giliran GPT-5.6 OpenAI yang Terkena Pembatasan Pemerintahan Trump
    9 Min Read
    Rahasia Skalabilitas Model AI Raksasa: Mengenal Micro-DDP, Teknik Distribusi Beban Kerja yang Mengubah Aturan Main
    11 Min Read
    ElevenLabs Adopsi Google SynthID: Solusi Mutakhir Deteksi Deepfake Audio yang Semakin Sulit Dibedakan dari Suara Manusia Asli
    9 Min Read
  • Mobile
    MobileShow More
    Revolusi Privasi WhatsApp: Kini Bisa Chat Tanpa Nomor HP Lewat Fitur Username Terbaru, Begini Cara Kerjanya!
    10 Min Read
    Aplikasi Resmi OpenClaw Akhirnya Meluncur di Mobile: Terobosan AI Self-Hosted atau Justru Mengecewakan Pengguna?
    12 Min Read
    WhatsApp Resmi Luncurkan Fitur Username Akhir Tahun Ini: Selamat Tinggal Bagikan Nomor Telepon, Simak Cara Amankan Nama Anda Sekarang!
    11 Min Read
    Revolusi Agen AI di Saku Anda: OpenClaw Resmi Meluncur di Android dan iOS dengan Desain Antarmuka yang Sangat Unik
    10 Min Read
    Update Besar Android Juni 2026: Google System Updates Bawa Perubahan Signifikan untuk Play Store dan Play Services
    8 Min Read
  • Gadget
    GadgetShow More
    Review Mendalam Bitdefender VPN: Kecepatan Kilat dengan Harga Terjangkau, Namun Apakah Cukup Aman bagi Pengguna Ahli?
    12 Min Read
    Bocoran Eksklusif Galaxy Z Fold 8 Wide: Revolusi Desain Layar Lipat Samsung Terungkap Melalui Gambar Case Terbaru
    9 Min Read
    Rahasia Maestro Digital Terungkap! Bedah Tuntas ImagineFX Edisi 268: Panduan Praktis Mempercepat Teknik Melukis Anda
    9 Min Read
    Rahasia di Balik ‘Batu yang Tidak Menghalangi Apapun’: Mengapa Desain Modern Justru Terasa Mengusir Manusia?
    9 Min Read
    Figma Config 2026 Ungkap Borok Utang Desain: Mengapa Tim Produk Tak Bisa Lagi Menutup Mata?
    11 Min Read
  • Software
    SoftwareShow More
    Review Mendalam Bitdefender VPN: Kecepatan Kilat dengan Harga Terjangkau, Namun Apakah Cukup Aman bagi Pengguna Ahli?
    12 Min Read
    Terobosan Besar Linux: Bcachefs Mulai Integrasikan Kode Rust ke Modul Kernel pada Rilis v1.38.7 Mendatang
    13 Min Read
    Wine 11.12 Resmi Dirilis: Bawa Dukungan Wayland Fractional Scaling yang Revolusioner untuk Pengguna Linux
    13 Min Read
    Membongkar Kekuatan NLP Klasik: Sejauh Mana Teknik ‘Jadul’ Bisa Menandingi AI Modern dalam Identifikasi Penulis?
    10 Min Read
    Beralih dari Tailscale ke Pangolin: Mengapa Solusi Akses Jarak Jauh Ini Jauh Lebih Mudah dari yang Anda Bayangkan?
    9 Min Read
  • Gaming
    GamingShow More
    Kekacauan Prasejarah: Mengapa Very Safe Dino Park Menjadi Game Multiplayer Paling ‘Berbahaya’ untuk Persahabatan Anda!
    10 Min Read
    Hanya Ada 2.000 di Dunia! Kartu Pokémon Mega Gallade Akira Egawa Jadi Buruan Paling Mustahil di Tahun 2026
    12 Min Read
    Steam Controller: Mengapa Perangkat ‘Gagal’ Valve Ini Justru Jadi Raja Tak Terbantahkan dalam Setup Couch Gaming Modern?
    10 Min Read
    Bocoran dan Kunci Jawaban Hurdle 30 Juni 2026: Strategi Master untuk Menaklukkan Puzzle Kata Terakhir Bulan Ini
    8 Min Read
    Rahasia Menaklukkan NYT Connections Sports Edition 30 Juni 2026: Panduan Strategi, Tips, dan Analisis Teka-Teki Hari Ini
    10 Min Read
  • Education
    EducationShow More
    Inovasi Generasi Muda: Proyek NESSP NASA Berhasil Cetak Ratusan Calon Ilmuwan Lewat Tantangan Eksplorasi Venus ROADS
    13 Min Read
    China Guncang Dunia Pendidikan: 12.000 Jurusan Kuliah Dihapus Massal Demi Dominasi Mutlak Kecerdasan Buatan
    9 Min Read
    Pelajaran Berharga dari Toy Story 5: Mengapa Anda Harus Memberi Anak Kindle Kids Edition dan Bukan Tablet ‘Brainrot’ di Prime Day Kali Ini
    10 Min Read
    PaperTok: Inovasi AI Peneliti University of Washington yang Ubah Jurnal Ilmiah Menjadi Video ala TikTok
    11 Min Read
    Mosyle@Home Hadir Sebagai Solusi Revolusioner Manajemen Screen Time iPad dan Mac Sekolah untuk Orang Tua
    9 Min Read
Search
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
Reading: Skandal Kepemilikan Digital: Sony Hapus Konten dari Library dan Realita Pahit Bahwa Kita Tidak Benar-benar Memiliki Apa yang Kita Beli
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
HeryArts NewsHeryArts News
Font ResizerAa
  • Home
  • Tech News
  • AI News
  • Mobile
  • Gadget
  • Software
  • Gaming
  • Education
Search
  • Home
  • Tech News
  • AI News
  • Mobile
  • Gadget
  • Software
  • Gaming
  • Education
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
HeryArts News > Blog > Bisnis Internasional > Skandal Kepemilikan Digital: Sony Hapus Konten dari Library dan Realita Pahit Bahwa Kita Tidak Benar-benar Memiliki Apa yang Kita Beli
Bisnis InternasionalDigital EntertainmentIndustri TeknologiPlayStation 5Sony

Skandal Kepemilikan Digital: Sony Hapus Konten dari Library dan Realita Pahit Bahwa Kita Tidak Benar-benar Memiliki Apa yang Kita Beli

Last updated: June 30, 2026 4:29 am
heryarts
Share
SHARE

Bayangkan Anda terbangun di suatu pagi, menyalakan konsol kesayangan, dan bersiap untuk menonton film atau memainkan game yang telah Anda bayar dengan uang hasil kerja keras bertahun-tahun yang lalu. Namun, saat Anda membuka perpustakaan digital, konten tersebut hilang tanpa jejak, menyisakan ruang kosong di layar dan rasa frustrasi yang mendalam di hati. Fenomena ini bukan lagi sekadar mimpi buruk bagi para kolektor digital, melainkan sebuah realita pahit yang sedang terjadi saat ini. Sony, raksasa teknologi asal Jepang, dilaporkan terus melakukan langkah-langkah untuk memangkas konten digital dari perpustakaan penggunanya seiring dengan strategi efisiensi toko digital mereka. Kejadian ini menjadi pengingat yang sangat keras bagi jutaan konsumen di seluruh dunia bahwa di era modern ini, tombol ‘Beli’ tidaklah berarti kepemilikan yang absolut.

Contents
Akar Masalah: Mengapa Sony Mulai Memangkas Toko Digital Mereka?Realita Pahit di Balik Tombol ‘Beli’: Lisensi vs KepemilikanApa Itu DRM dan Bagaimana Ia Mengontrol Akses Anda?Kronologi Kebijakan Digital Sony yang Menimbulkan KontroversiDampak Luas bagi Industri dan Kepercayaan PenggunaPerbandingan: Apakah Media Fisik Masih Menjadi Solusi Terbaik?Hak Konsumen dan Perlunya Regulasi Baru di Era DigitalPandangan ke Depan: Menuju Era Tanpa Kepemilikan?

Selama beberapa tahun terakhir, Sony telah secara bertahap mengurangi skala operasional toko digital mereka, terutama untuk platform-platform lama yang dianggap sudah tidak menguntungkan secara bisnis. Langkah ini mencakup penutupan akses ke pembelian baru hingga penghapusan konten yang sebelumnya sudah dibeli oleh pengguna dari library mereka. Hal ini memicu perdebatan panas mengenai etika bisnis dan hak konsumen di ruang digital yang semakin sempit. Banyak pengguna merasa dikhianati karena mereka berasumsi bahwa transaksi digital memiliki status hukum yang sama dengan pembelian barang fisik. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks dan cenderung merugikan pihak pembeli yang tidak membaca detail kontrak lisensi yang sangat panjang.

Akar Masalah: Mengapa Sony Mulai Memangkas Toko Digital Mereka?

Keputusan Sony untuk melakukan perampingan pada ekosistem PlayStation Store didorong oleh transisi teknologi yang sangat cepat dan biaya pemeliharaan server yang terus membengkak. Mengelola infrastruktur digital untuk ribuan judul game, film, dan acara televisi lintas generasi konsol membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Ketika sebuah platform dianggap sudah mencapai akhir masa hidupnya (end-of-life), perusahaan seringkali melihat pemeliharaan konten tersebut sebagai beban finansial daripada aset layanan pelanggan. Inilah yang menjadi alasan utama mengapa toko digital untuk konsol lawas mulai dibatasi aksesnya secara sistematis oleh pihak manajemen.

Selain masalah biaya operasional, perubahan kontrak lisensi dengan penyedia konten pihak ketiga juga memainkan peran krusial dalam hilangnya konten dari library pengguna. Sony bertindak sebagai distributor, dan ketika kesepakatan distribusi dengan pemilik hak cipta asli berakhir atau tidak diperpanjang, Sony seringkali terpaksa menghapus konten tersebut dari server mereka. Masalahnya, penghapusan ini tidak hanya berlaku untuk pembeli baru, tetapi terkadang juga berdampak pada mereka yang sudah melakukan transaksi bertahun-tahun sebelumnya. Belum ada konfirmasi resmi mengenai kompensasi menyeluruh bagi pengguna yang terdampak oleh hilangnya akses ini secara permanen.

Realita Pahit di Balik Tombol ‘Beli’: Lisensi vs Kepemilikan

Salah satu kesalahpahaman terbesar di era ekonomi digital adalah definisi dari kata ‘Beli’ itu sendiri. Saat Anda menekan tombol beli di PlayStation Store atau platform digital lainnya, secara hukum Anda sebenarnya tidak sedang membeli produk tersebut secara utuh. Anda hanyalah membayar untuk mendapatkan lisensi penggunaan terbatas yang dapat ditarik kembali oleh penyedia layanan kapan saja. Struktur hukum ini tertuang dalam Perjanjian Lisensi Pengguna Akhir (EULA) yang seringkali kita setujui tanpa membacanya secara mendalam. Inilah celah hukum yang memungkinkan perusahaan seperti Sony untuk menghapus konten tanpa melanggar hukum kontrak yang berlaku saat ini.

Apa Itu DRM dan Bagaimana Ia Mengontrol Akses Anda?

Teknologi Digital Rights Management (DRM) adalah penjaga gerbang yang memastikan bahwa Anda hanya dapat mengakses konten selama lisensi Anda dianggap valid oleh server pusat. DRM berfungsi sebagai kunci digital yang terus-menerus melakukan verifikasi identitas dan hak akses pengguna secara real-time. Ketika Sony memutuskan untuk memutus koneksi atau menghapus entri konten dari database mereka, kunci digital tersebut secara otomatis menjadi tidak berguna. Hal ini membuat konten yang sudah ada di dalam penyimpanan perangkat Anda sekalipun bisa menjadi tidak dapat diakses sama sekali karena gagal melewati proses verifikasi DRM.

  • Ketergantungan pada Server: Konten digital sangat bergantung pada keberadaan server pusat yang dikelola perusahaan.
  • Kontrak Lisensi Sepihak: Pengguna seringkali berada di posisi lemah dengan kontrak yang memberikan hak penuh kepada perusahaan untuk mengubah layanan.
  • Ketiadaan Hak Milik Fisik: Tanpa adanya media fisik, konsumen tidak memiliki kontrol atas aset yang telah mereka bayar.
  • Risiko Obsolescence: Teknologi yang berubah membuat format digital lama mudah ditinggalkan dan tidak didukung lagi.

Kronologi Kebijakan Digital Sony yang Menimbulkan Kontroversi

Langkah Sony dalam memangkas layanan digital sebenarnya telah terlihat sejak beberapa tahun lalu ketika mereka mengumumkan rencana penutupan toko untuk PlayStation 3, PlayStation Vita, dan PSP. Meskipun rencana tersebut sempat dibatalkan sebagian setelah mendapat protes keras dari komunitas gamer, benih ketidakpercayaan sudah terlanjur tertanam. Sony menyadari bahwa memelihara ekosistem lama sangatlah sulit, namun komunitas melihatnya sebagai upaya untuk memaksa pengguna beralih ke perangkat keras terbaru yang lebih mahal. Sejarah mencatat bahwa ini adalah awal dari pergeseran kebijakan yang lebih agresif terkait pengelolaan konten digital.

Baru-baru ini, kasus penghapusan konten video dari library pengguna menjadi puncak dari keresahan publik. Pengguna melaporkan bahwa acara televisi atau film yang mereka beli secara legal tiba-tiba menghilang karena masalah lisensi antara Sony dan pemilik konten asli. Kejadian ini membuktikan bahwa bahkan konten non-game pun tidak aman dari kebijakan penghapusan sepihak ini. Strategi Sony yang terus melakukan ‘scaling down’ pada toko digital mereka memberikan sinyal kuat bahwa perpustakaan digital masa depan mungkin akan jauh lebih tidak stabil daripada yang kita bayangkan sebelumnya.

Dampak Luas bagi Industri dan Kepercayaan Pengguna

Tindakan Sony ini membawa dampak sistemik terhadap seluruh industri hiburan digital. Kepercayaan konsumen adalah mata uang yang paling berharga di pasar digital, dan setiap kali konten dihapus dari library, kepercayaan tersebut terkikis secara signifikan. Jika konsumen merasa bahwa investasi mereka pada konten digital tidak aman, mereka mungkin akan berpikir dua kali sebelum melakukan pembelian di masa depan. Hal ini bisa mendorong kembalinya minat pada media fisik atau, dalam skenario yang lebih buruk, meningkatkan angka pembajakan sebagai bentuk ‘pelestarian’ konten yang tidak bisa dijamin oleh perusahaan resmi.

“Kepemilikan digital hanyalah sebuah ilusi yang dipinjamkan kepada kita dengan harga penuh, namun tanpa jaminan masa depan.”

Selain itu, dampak ini juga dirasakan oleh para pelestari sejarah digital. Ketika Sony menghapus konten, ada risiko besar bahwa karya seni digital tertentu akan hilang selamanya dari peradaban manusia jika tidak ada salinan fisiknya. Industri game dan film digital kini menghadapi krisis identitas di mana aksesibilitas diadu dengan keberlanjutan bisnis. Para pengembang game indie juga merasa khawatir karena karya mereka bisa lenyap begitu saja jika platform distribusi utama memutuskan untuk menutup pintu secara mendadak tanpa rencana mitigasi yang jelas bagi para pembeli setianya.

Perbandingan: Apakah Media Fisik Masih Menjadi Solusi Terbaik?

Jika dibandingkan dengan media fisik seperti Blu-ray atau cartridge, konten digital memang menawarkan kenyamanan yang luar biasa. Namun, kasus Sony ini menunjukkan bahwa kenyamanan tersebut datang dengan harga yang sangat mahal, yaitu hilangnya kontrol. Pemilik media fisik memiliki hak penuh atas barang yang mereka beli; mereka bisa meminjamkannya, menjualnya kembali, atau menyimpannya selama puluhan tahun tanpa perlu khawatir tentang server yang mati atau lisensi yang kedaluwarsa. Dalam konteks ini, media fisik tetap menjadi benteng terakhir bagi kepemilikan konsumen yang sejati di tengah gempuran digitalisasi.

Di sisi lain, kompetitor seperti GOG (Good Old Games) mencoba menawarkan pendekatan yang berbeda dengan menyediakan konten bebas DRM. Pendekatan ini memungkinkan pengguna untuk mengunduh installer mentah dan menyimpannya secara mandiri tanpa perlu melakukan verifikasi ke server perusahaan di masa depan. Perbandingan ini menyoroti bahwa kebijakan Sony sebenarnya adalah pilihan bisnis, bukan keharusan teknis. Ada cara untuk menghormati hak konsumen sambil tetap menjalankan bisnis digital, namun hal itu memerlukan kemauan politik dan regulasi yang lebih kuat dari pihak otoritas untuk melindungi hak-hak pembeli di ruang siber.

Hak Konsumen dan Perlunya Regulasi Baru di Era Digital

Fenomena hilangnya konten di platform Sony seharusnya menjadi alarm bagi para pembuat kebijakan di seluruh dunia. Hukum perlindungan konsumen yang ada saat ini sebagian besar masih dirancang untuk dunia fisik dan seringkali gagal menjangkau seluk-beluk lisensi digital yang rumit. Perlu adanya regulasi baru yang mewajibkan perusahaan untuk memberikan akses permanen kepada pembeli, atau setidaknya memberikan kompensasi yang adil jika konten harus dihapus karena alasan di luar kendali pengguna. Tanpa campur tangan hukum, konsumen akan terus berada di bawah belas kasihan korporasi besar.

Beberapa aktivis hak digital mulai menyuarakan pentingnya hak untuk memiliki (Right to Own) yang setara dengan hak untuk memperbaiki (Right to Repair). Mereka menuntut agar setiap transaksi digital yang menggunakan kata ‘Beli’ harus menjamin akses seumur hidup bagi konsumen. Jika sebuah layanan harus ditutup, perusahaan wajib menyediakan cara bagi pengguna untuk mengunduh salinan konten tersebut secara lokal tanpa enkripsi DRM yang membatasi. Hal ini bukan hanya soal uang, tetapi soal keadilan dan transparansi dalam hubungan antara produsen dan konsumen di era ekonomi berbasis langganan ini.

Pandangan ke Depan: Menuju Era Tanpa Kepemilikan?

Melihat tren yang ada, masa depan industri hiburan tampaknya akan semakin menjauh dari konsep kepemilikan dan lebih condong ke arah model langganan (subscription). Layanan seperti PlayStation Plus atau Xbox Game Pass menjadi standar baru di mana pengguna membayar biaya bulanan untuk akses ke katalog besar konten, dengan pemahaman penuh bahwa konten tersebut bisa datang dan pergi kapan saja. Sony tampaknya sedang mengarahkan ekosistem mereka menuju model ini, di mana perpustakaan digital permanen menjadi konsep yang semakin usang dan ditinggalkan oleh para raksasa teknologi demi pendapatan berulang yang lebih stabil.

Namun, bagi konsumen yang menghargai koleksi dan sejarah, masa depan ini terasa sangat suram. Kita mungkin akan melihat kebangkitan pasar media fisik di kalangan niche kolektor, mirip dengan apa yang terjadi pada piringan hitam (vinyl) di industri musik. Pada akhirnya, tanggung jawab ada di tangan kita sebagai konsumen untuk lebih kritis terhadap apa yang kita bayar. Kita harus mulai mempertanyakan apakah kemudahan akses digital sebanding dengan risiko kehilangan segalanya dalam semalam. Ke depan, perjuangan untuk mendefinisikan kembali kepemilikan di dunia digital akan menjadi salah satu pertempuran hukum dan budaya yang paling penting di abad ke-21.

You Might Also Like

Mengenal Bill Savitt: Pengacara Jenius yang Berhasil Menundukkan Elon Musk Dua Kali di Meja Hijau

Misteri Terpecahkan! Pikap Listrik Murah Ford $30.000 Terpantau Uji Coba di Arizona, Siap Guncang Dominasi Pasar EV!

Hitachi Energy Bangun Pabrik Transformator Terbesar di AS: Strategi Raksasa Demi Menopang Ledakan Kebutuhan Listrik AI

Penjualan Toyota Merosot 4 Bulan Beruntun: Harga Bensin Jadi Kambing Hitam, Tapi Penjualan Mobil Listrik Justru Meledak 170%!

Rahasia Earthrise Energy: Bagaimana Pembangkit Gas Menjadi ‘Jalan Pintas’ Percepat Proyek Tenaga Surya 270 MW ke Jaringan Listrik

TAGGED:#DigitalEntertainment#DigitalOwnership#DigitalPrivacy#GamingNews#HakKonsumen#IndustriGame#LayananBerlangganan#MasaDepanTeknologi#PlayStation5#PlayStationStore#SonyElectronics#UpdateTeknologi#VideoGameSonyTeknologi

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Share
Previous Article Skandal Geofence Warrants: Mahkamah Agung AS Akhirnya Batasi Wewenang Pemerintah Mengintai Lokasi Warga
Next Article Misteri Kerusakan Lapisan Ozon Terungkap: Ternyata Ancaman Global Sudah Dimulai Jauh Sebelum Era Penggunaan Massal CFC!
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Stay Connected

248.1kLike
54.3kFollow
10.3kSubscribe
39.5kFollow
banner banner
Create an Amazing Newspaper
Discover thousands of options, easy to customize layouts, one-click to import demo and much more.
Learn More

Latest News

Review Mendalam Bitdefender VPN: Kecepatan Kilat dengan Harga Terjangkau, Namun Apakah Cukup Aman bagi Pengguna Ahli?
Internet Keamanan Siber Privasi Digital Software Tech News
Revolusi Mesin Slushie 2026: Ninja Slushi Resmi Digantikan, Kini Hadir dengan Fitur Soft Serve dan Pendinginan Kilat!
Appliance Elektronik Gaya Hidup Digital Inovasi Teknologi Peralatan Rumah Tangga
Bocoran Eksklusif Galaxy Z Fold 8 Wide: Revolusi Desain Layar Lipat Samsung Terungkap Melalui Gambar Case Terbaru
Gadget Inovasi Teknologi Samsung Smartphone Tech News
Bukan Amazon! Inilah Rahasia Tempat Belanja Filamen Printer 3D Termurah di Inggris dengan Harga Black Friday
Belanja Online Bisnis Digital Teknologi
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Quick Link

  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise

Support

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

HeryArts NewsHeryArts News
Follow US
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
Join Us!

Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?