Pertempuran hukum antara raksasa teknologi Apple dan regulator persaingan usaha India kini memasuki babak baru yang sangat panas dan penuh drama prosedural. Dalam perkembangan terbaru, perusahaan yang bermarkas di Cupertino tersebut meluncurkan serangan balik yang sangat tajam terhadap tim penyelidik dari Competition Commission of India (CCI). Apple secara terbuka menuduh para penyelidik otoritas tersebut melakukan tindakan tidak profesional dengan cara menyalin klaim-klaim dari para rival bisnisnya tanpa melakukan analisis mandiri yang mendalam. Tuduhan ini menjadi krusial karena hasil penyelidikan tersebut berpotensi menjatuhkan sanksi finansial yang sangat masif bagi Apple di salah satu pasar pertumbuhan terpenting mereka di dunia.
Dalam dokumen pembelaan setebal puluhan halaman yang diserahkan kepada CCI pada 25 Juni 2026, Apple menegaskan bahwa temuan awal regulator yang menuduh mereka melakukan praktik monopoli harus segera dibatalkan demi hukum. Apple berargumen bahwa laporan yang disusun oleh Direktur Jenderal (DG) CCI sangat cacat karena hanya menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan para pesaingnya. Perusahaan ini merasa bahwa integritas proses hukum di India sedang dipertaruhkan jika regulator hanya mengandalkan narasi sepihak dari pihak ketiga tanpa verifikasi faktual. Upaya Apple untuk mendiskreditkan penyelidikan ini merupakan langkah defensif strategis untuk menghindari perubahan paksa pada model bisnis App Store yang selama ini mereka jaga dengan sangat ketat.
Skandal ‘Membeo’: Apple Tuduh Penyelidik Hanya Menyalin Klaim Rival
Salah satu poin paling mengejutkan dalam dokumen submisi Apple adalah klaim bahwa tim penyelidik CCI melakukan praktik “copy-paste” secara harfiah terhadap pernyataan dari pihak lawan. Apple menyertakan tabel perbandingan yang menunjukkan kemiripan kata demi kata antara laporan penyelidik dengan dokumen yang diajukan oleh Match Group (pemilik Tinder), aplikasi pembayaran milik Walmart yaitu PhonePe, serta raksasa teknologi lokal India, Paytm. Apple menyatakan bahwa Direktur Jenderal CCI sama sekali tidak melakukan upaya untuk menilai pernyataan tersebut secara kritis atau melakukan investigasi independen yang seharusnya menjadi standar otoritas negara.
“Direktur Jenderal CCI tidak melakukan upaya apa pun untuk secara independen memverifikasi atau menilai pernyataan-pernyataan ini, dan sering kali membeo mereka secara verbatim,” tulis Apple dalam dokumen resminya.
Kritik pedas ini menyoroti kekhawatiran Apple bahwa regulator telah kehilangan objektivitasnya sejak awal penyelidikan dimulai. Dengan hanya menduplikasi argumen dari para pesaing, Apple berpendapat bahwa laporan tersebut bukan lagi merupakan dokumen hukum yang sah, melainkan sekadar kumpulan keluhan dari perusahaan yang ingin mendapatkan keuntungan kompetitif melalui intervensi regulasi. Apple menegaskan bahwa praktik semacam ini sangat merugikan prinsip keadilan bagi pelaku usaha internasional yang berinvestasi besar di India.
Replikasi Buta Terhadap Putusan Uni Eropa
Selain tuduhan menyalin klaim rival, Apple juga menemukan bukti bahwa penyelidik India secara membabi buta mereplikasi grafik dan data dari putusan antitrust Uni Eropa tahun 2024. Apple mengklaim bahwa grafik mengenai pengeluaran konsumen dunia untuk aplikasi dan game seluler yang ada di laporan CCI identik dengan yang digunakan oleh regulator Eropa. Hal ini dianggap sangat bermasalah karena kondisi pasar digital di India memiliki karakteristik dan dinamika yang sangat berbeda jauh dibandingkan dengan pasar di wilayah Uni Eropa.
Apple berargumen bahwa kegagalan CCI untuk menyesuaikan data dengan realitas pasar lokal menunjukkan kemalasan intelektual dalam proses investigasi tersebut. Meskipun Google sebelumnya pernah mengajukan keberatan serupa dalam kasus Android di India—di mana mereka juga menuduh penyelidik menyalin putusan Eropa—keberatan tersebut tidak banyak mengubah hasil akhir yang memaksa Google mengubah kebijakan promosinya. Namun, Apple berharap dengan mengekspos praktik replikasi data ini, mereka dapat menekan CCI untuk meninjau kembali seluruh premis dari kasus yang sedang berjalan ini.
Ketimpangan Prosedural: Apple Merasa Dianak-tirikan Dibanding Google
Apple juga mengangkat isu ketidakadilan prosedural yang mereka alami selama proses penyelidikan berlangsung selama lebih dari dua tahun terakhir. Perusahaan ini mengklaim bahwa para pejabat CCI tidak pernah memberikan satu pun kesempatan bagi Apple untuk memberikan pernyataan lisan atau memberikan bukti secara langsung di hadapan tim penyelidik. Hal ini dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap hak untuk membela diri bagi sebuah entitas bisnis yang dituduh melakukan pelanggaran hukum persaingan usaha yang berat.
Dalam argumennya, Apple membandingkan perlakuan yang mereka terima dengan perlakuan yang diberikan CCI kepada Google dalam kasus yang serupa. Menurut Apple, Google diberikan beberapa kali kesempatan untuk membela diri dan menjelaskan posisi mereka secara lisan selama proses investigasi berlangsung. Perbedaan perlakuan ini memicu kecurigaan Apple bahwa ada standar ganda yang diterapkan oleh regulator, yang pada akhirnya dapat merusak reputasi India sebagai negara yang ramah terhadap investasi asing dan menjunjung tinggi kepastian hukum.
Ancaman Denda Fantastis Senilai $38 Miliar
Ketegangan ini semakin memuncak karena adanya risiko finansial yang sangat besar bagi Apple akibat undang-undang antitrust India yang baru. Undang-undang yang mulai berlaku pada tahun 2024 ini memungkinkan regulator untuk menjatuhkan denda hingga 10% dari omzet global perusahaan, bukan hanya omzet lokal di India. Berdasarkan perhitungan Apple, jika mereka dinyatakan bersalah dan dijatuhi denda maksimal, nilai penaltinya bisa mencapai angka astronomis sebesar $38 miliar atau sekitar Rp620 triliun lebih.
Apple saat ini sedang menantang penerapan undang-undang tersebut di pengadilan New Delhi, khususnya mengenai apakah aturan tersebut dapat diterapkan secara surut untuk periode 2022 hingga 2024. Sebelumnya, Apple sempat menolak untuk memberikan dokumen keuangan global mereka kepada CCI sebelum akhirnya setuju untuk bekerja sama pada awal Juni 2026. Penyerahan data omzet lokal India baru dilakukan tepat pada batas waktu terakhir, yaitu 25 Juni, bersamaan dengan peluncuran tuduhan skandal “copy-paste” terhadap tim penyelidik tersebut.
Implikasi Bagi Ekonomi Digital dan Ekosistem Investasi India
Apple memperingatkan bahwa jika CCI memaksakan perubahan pada model bisnis terintegrasi App Store, hal itu akan menciptakan ketidakpastian regulasi yang parah. Apple berargumen bahwa sistem pembayaran in-app yang mereka wajibkan adalah bagian integral dari keamanan dan privasi pengguna yang selama ini menjadi keunggulan utama produk mereka. Jika model ini dirusak oleh intervensi pemerintah yang didasarkan pada analisis yang cacat, Apple khawatir hal itu akan menghambat inovasi dan perkembangan ekonomi digital di India secara keseluruhan.
Lebih lanjut, Apple menekankan posisi mereka sebagai “pemain kecil” di pasar smartphone India dengan pangsa pasar di bawah 6%. Dengan pangsa pasar yang minim tersebut, Apple merasa tidak masuk akal jika mereka dituduh memiliki kekuatan monopoli yang dominan di pasar tersebut. Perusahaan memperingatkan bahwa tindakan keras yang tidak berdasar dari regulator dapat menghalangi perusahaan teknologi global lainnya untuk menanamkan modal dan memperluas operasional mereka di wilayah India di masa depan.
India Sebagai Pusat Manufaktur Global iPhone
Ironisnya, sengketa hukum yang sengit ini terjadi di saat India semakin menjadi pusat strategis bagi rantai pasokan global Apple. India diproyeksikan akan memproduksi sekitar 26% dari total iPhone di seluruh dunia pada tahun 2026, sebuah lompatan besar dari hanya 6% pada empat tahun yang lalu. Pertumbuhan manufaktur ini merupakan hasil dari upaya Apple untuk mendiversifikasi basis produksinya keluar dari China, yang didukung penuh oleh insentif dari pemerintah India sendiri.
- Produksi Global: India ditargetkan memproduksi 1 dari 4 iPhone di dunia pada 2026.
- Investasi Lokal: Apple terus memperluas jaringan pabrik melalui mitra seperti Foxconn dan Tata Group.
- Kontradiksi Regulasi: Di satu sisi pemerintah India menarik investasi Apple, namun di sisi lain regulator menekan model bisnis intinya.
- Pangsa Pasar: Meskipun produksi besar, penggunaan iPhone di India masih di bawah 6% dibanding Android.
Pandangan ke Depan: Menanti Keputusan Final CCI
Kasus ini kini berada pada titik kritis yang akan menentukan bagaimana hubungan antara perusahaan Big Tech dan regulator di negara-negara berkembang akan berevolusi. Jika CCI mengabaikan keberatan Apple dan tetap melanjutkan tuntutan berdasarkan laporan yang ada, kita mungkin akan melihat pertempuran hukum yang lebih panjang di tingkat pengadilan yang lebih tinggi. Apple tampaknya tidak akan menyerah begitu saja, mengingat taruhan denda $38 miliar dan integritas model bisnis App Store adalah hal yang tidak bisa mereka kompromikan.
Bagi industri teknologi, putusan akhir dalam kasus ini akan menjadi preseden penting mengenai sejauh mana sebuah negara dapat memaksakan perubahan pada ekosistem perangkat lunak global. Para pelaku pasar dan investor kini memantau dengan cermat apakah India akan memilih untuk melunakkan pendekatannya demi menjaga momentum investasi manufaktur, atau tetap teguh pada sikap tegasnya terhadap dominasi platform digital. Satu hal yang pasti, tuduhan skandal “copy-paste” ini telah memberikan noda pada kredibilitas proses penyelidikan yang seharusnya menjadi standar emas bagi keadilan ekonomi di India.



