By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
HeryArts NewsHeryArts NewsHeryArts News
  • Home
  • Tech News
    Tech NewsShow More
    Solusi Penyimpanan Raksasa: Seagate Expansion Desktop 20TB Diskon 32%, Jawaban untuk Masalah Kapasitas Data!
    13 Min Read
    Kapan Rick and Morty Season 9 Episode 6 Rilis? Bocoran Parodi David Lynch yang Siap Mengguncang Adult Swim dan HBO Max!
    9 Min Read
    Bocoran NYT Mini Crossword Rabu 24 Juni: Strategi Jitu dan Analisis Mendalam di Balik Fenomena Teka-Teki Silang Terpopuler
    12 Min Read
    Solusi Lengkap Wordle Hari Ini 24 Juni #1831: Bocoran Petunjuk, Jawaban, dan Trik Jitu Mengamankan Streak Anda!
    12 Min Read
    Rahasia NYT Strands Hari Ini 24 Juni: Panduan Strategi, Petunjuk Jitu, dan Solusi Lengkap Puzzle #843
    10 Min Read
  • AI News
    AI NewsShow More
    Tesla Bantah Tuduhan FSD Mematikan: Data Log Ungkap Kesalahan Fatal Pengemudi Salah Injak Pedal Gas
    11 Min Read
    Membongkar Rahasia Batasan 5 Jam Claude AI: Mengapa Pengguna Gratis Sering Terhenti dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
    10 Min Read
    SpaceX Caplok Cursor Senilai $60 Miliar: Inilah Perbandingan Jujur Claude Code vs Cursor di Era Coding 2026
    10 Min Read
    Bukan Sekadar Benchmark: 12 Alasan Kuat Mengapa Claude Kini Mengungguli ChatGPT dalam Workflow Profesional Harian
    9 Min Read
    Claude Fable 5 Resmi Rilis: Inilah Model AI Tercanggih Anthropic dari Lini Mythos yang Siap Mengubah Peta Persaingan Global
    10 Min Read
  • Mobile
    MobileShow More
    AIB Guncang Sektor Perbankan: Rombak Total Aplikasi Mobile Setelah Satu Dekade Demi Pengalaman Finansial Paripurna
    12 Min Read
    Rahasia Layar Android Auto Lebih Berguna: 3 Aplikasi Sideload Terbaik untuk Nonton YouTube dan Browsing di Mobil
    11 Min Read
    Revolusi Gadget Lansia: Consumer Cellular Rilis SpeakEasy, Ponsel Khusus Usia 75+ yang Anti-Ribet!
    10 Min Read
    CatchCat: Eksperimen Game AR Bertema Kucing yang Berpotensi Viral Namun Disebut Sebagai Peluang yang Terbuang Sia-sia
    9 Min Read
    Bocoran Eksklusif Android 17 ‘Cinnamon Bun’: Revolusi Antarmuka dan Keamanan Super Ketat yang Siap Meluncur Juni 2026
    12 Min Read
  • Gadget
    GadgetShow More
    Kesempatan Langka! Pokémon TCG Chaos Rising Booster Bundle Turun Harga di Bawah $50 Saat Prime Day, Segera Amankan Koleksi Anda!
    9 Min Read
    Bocoran Harga Termurah! Pokémon Legends: Z-A untuk Switch 2 Diskon Gila-Gilaan di Amazon Prime Day, Hemat Hingga $25!
    10 Min Read
    Bye-Bye Biaya Langganan! Dapatkan Microsoft Office Pro 2021 Lisensi Seumur Hidup Hanya Dengan $30, Hemat Hingga 70 Persen
    10 Min Read
    Daftar Gadget Terbaik 2026 Sejauh Ini: Dominasi Apple dan Samsung Hingga Kejutan Inovasi dari Insta360, Shark, dan DJI
    14 Min Read
    Rahasia Hemat Tagihan Telepon: Mengupas 5 Penawaran SIM-Only Terbaik di Musim EOFY Australia untuk Kuota Melimpah Harga Murah
    12 Min Read
  • Software
    SoftwareShow More
    Bye-Bye Biaya Langganan! Dapatkan Microsoft Office Pro 2021 Lisensi Seumur Hidup Hanya Dengan $30, Hemat Hingga 70 Persen
    10 Min Read
    Transformasi Windows 11 Setelah 5 Tahun: Dari Awal yang Sulit Menjadi Sistem Operasi Terbaik Microsoft Dekade Ini
    14 Min Read
    Revolusi Privasi Mengetik: FUTO Swipe Hadir Sebagai Penantang Gboard dengan Model Gesture Typing yang 100% Lokal
    9 Min Read
    Mengenang Sosok Jenius di Balik Garis Gelombang Merah Microsoft Word: Inovasi Sederhana yang Mengubah Dunia Penulisan Digital Selamanya
    12 Min Read
    Ironi Inovasi di Silicon Valley: Kisah Developer yang Dipecat Google Gara-gara Ciptakan Google Workspace CLI
    10 Min Read
  • Gaming
    GamingShow More
    Kesempatan Langka! Pokémon TCG Chaos Rising Booster Bundle Turun Harga di Bawah $50 Saat Prime Day, Segera Amankan Koleksi Anda!
    9 Min Read
    Bocoran Harga Termurah! Pokémon Legends: Z-A untuk Switch 2 Diskon Gila-Gilaan di Amazon Prime Day, Hemat Hingga $25!
    10 Min Read
    Solusi Lengkap Wordle Hari Ini 24 Juni #1831: Bocoran Petunjuk, Jawaban, dan Trik Jitu Mengamankan Streak Anda!
    12 Min Read
    Rahasia NYT Strands Hari Ini 24 Juni: Panduan Strategi, Petunjuk Jitu, dan Solusi Lengkap Puzzle #843
    10 Min Read
    Bocoran NYT Strands 24 Juni 2026: Strategi Jitu, Petunjuk Tersembunyi, dan Jawaban Lengkap untuk Menguasai Teka-Teki Hari Ini
    10 Min Read
  • Education
    EducationShow More
    Revolusi Pendidikan Prabowo: Dari Sekolah Rakyat ke Era Digital, Strategi Besar Cetak SDM Unggul Indonesia
    11 Min Read
    Siasat Licik Siswa Kelabui Detektor AI: Mengenal Aplikasi ‘Humanizer’ dan ‘Autotyper’ yang Mengancam Integritas Akademik
    12 Min Read
    Gen Z Skeptis Terhadap AI: Mengapa Universitas Harus Berhenti Memaksakan Teknologi dan Mulai Mendengarkan Mahasiswa
    10 Min Read
    Misteri Adaptasi Gelap: Mengapa Mata Manusia Membutuhkan Waktu Lama untuk Melihat dalam Kegelapan?
    10 Min Read
    Kisah Luar Biasa Rohit Goeptar: Dari Kemiskinan di Suriname Menuju Puncak Karier di NASA
    11 Min Read
Search
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
Reading: Alibaba Menggugat Pentagon! Raksasa Hangzhou Lawan Balik Label Perusahaan Militer China di Pengadilan AS
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
HeryArts NewsHeryArts News
Font ResizerAa
  • Home
  • Tech News
  • AI News
  • Mobile
  • Gadget
  • Software
  • Gaming
  • Education
Search
  • Home
  • Tech News
  • AI News
  • Mobile
  • Gadget
  • Software
  • Gaming
  • Education
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
HeryArts News > Blog > Bisnis > Alibaba Menggugat Pentagon! Raksasa Hangzhou Lawan Balik Label Perusahaan Militer China di Pengadilan AS
BisnisChina TechIndustri TeknologiInternasionalStrategi Bisnis

Alibaba Menggugat Pentagon! Raksasa Hangzhou Lawan Balik Label Perusahaan Militer China di Pengadilan AS

Last updated: June 24, 2026 12:29 pm
heryarts
Share
SHARE

Alibaba Group, raksasa e-commerce dan teknologi global yang berbasis di Hangzhou, secara resmi telah mengambil langkah hukum yang sangat agresif dengan menyeret Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) ke meja hijau. Langkah hukum yang berani ini diambil setelah perusahaan tersebut merasa dirugikan oleh label sebagai “perusahaan militer China” yang disematkan oleh otoritas pertahanan AS secara sepihak. Gugatan resmi ini diajukan pada hari Selasa di pengadilan federal San Jose, California, yang secara simbolis merupakan jantung dari inovasi teknologi dunia. Bagi para pengamat jurnalisme investigasi, manuver ini adalah puncak dari ketegangan panjang antara korporasi teknologi Tiongkok dengan kebijakan keamanan nasional Amerika Serikat yang semakin restriktif dalam beberapa tahun terakhir. Alibaba dengan tegas menyatakan bahwa mereka tidak layak mendapatkan klasifikasi tersebut dan meminta hakim federal untuk segera menghapus nama mereka dari daftar hitam yang dianggap cacat hukum tersebut.

Contents
Latar Belakang dan Konteks Daftar Hitam PentagonMekanisme Penyusunan Daftar 1260HArgumen Hukum Alibaba: Entitas Komersial vs Afiliasi MiliterStruktur Kepemilikan dan Independensi PerusahaanImplikasi Bagi Investor dan Pasar Modal GlobalPerbandingan dengan Kasus Xiaomi dan HesaiPola Penegakan Hukum Pentagon yang DipertanyakanDampak Terhadap Ekosistem Teknologi GlobalPandangan ke Depan: Masa Depan Hubungan Dagang AS-China

Dalam dokumen gugatan yang diajukan, Alibaba bersikeras bahwa mereka adalah entitas komersial murni yang beroperasi secara transparan dan tidak memiliki afiliasi dengan angkatan bersenjata Tiongkok. Label “perusahaan militer China” yang diberikan oleh Pentagon dianggap sebagai sebuah kekeliruan fatal yang didasarkan pada asumsi yang tidak berdasar. Perusahaan menyatakan bahwa keputusan tersebut telah menyebabkan kerusakan reputasi yang signifikan serta potensi kerugian finansial yang sangat besar bagi para pemegang saham global. Melalui gugatan ini, Alibaba berupaya untuk membersihkan namanya dari stigma negatif yang dapat menghambat ekspansi bisnis mereka di pasar internasional, terutama di wilayah Amerika Utara dan Eropa. Belum ada konfirmasi resmi mengenai tanggapan mendalam dari pihak Departemen Pertahanan AS terkait materi gugatan ini saat berita ini diturunkan.

Latar Belakang dan Konteks Daftar Hitam Pentagon

Daftar yang dipermasalahkan oleh Alibaba ini secara resmi dikenal sebagai daftar Section 1260H dari National Defense Authorization Act (NDAA). Daftar ini dirancang oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang diduga memiliki hubungan erat atau bekerja sama dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China. Masuk ke dalam daftar ini bukan sekadar masalah administratif, melainkan sebuah hukuman ekonomi terselubung yang sangat berat. Perusahaan yang tercantum dalam daftar ini sering kali menghadapi pembatasan investasi dari warga negara dan institusi Amerika Serikat, yang secara otomatis menekan valuasi pasar mereka. Selain itu, label ini juga menjadi sinyal merah bagi mitra bisnis global lainnya untuk berhati-hati dalam menjalin kerja sama strategis dengan entitas tersebut.

Mekanisme Penyusunan Daftar 1260H

Proses penyusunan daftar ini sering kali menjadi subjek perdebatan karena kriteria yang dianggap kurang transparan oleh banyak pihak di industri teknologi. Departemen Pertahanan AS memiliki wewenang luas untuk memasukkan perusahaan yang mereka anggap berkontribusi pada modernisasi militer China, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, Alibaba berargumen bahwa kriteria yang digunakan untuk memasukkan mereka tidak memiliki bukti empiris yang kuat dan cenderung bersifat politis. Ketidakjelasan kriteria inilah yang menjadi titik sentral dalam gugatan hukum Alibaba di California, di mana mereka menuntut transparansi dan keadilan prosedural. Daftar ini telah menjadi instrumen utama dalam strategi Perang Teknologi antara Washington dan Beijing yang terus memanas.

  • Dampak Reputasi: Label militer menciptakan persepsi risiko keamanan bagi pengguna layanan cloud dan e-commerce.
  • Pembatasan Modal: Investor institusional AS sering kali dilarang atau dibatasi untuk memegang saham di perusahaan dalam daftar ini.
  • Ketidakpastian Hukum: Status hukum yang menggantung membuat perencanaan bisnis jangka panjang menjadi sangat sulit bagi manajemen.

Argumen Hukum Alibaba: Entitas Komersial vs Afiliasi Militer

Dalam pembelaannya, Alibaba menekankan bahwa struktur kepemilikan dan operasional mereka sepenuhnya berorientasi pada pasar sipil. Sebagai perusahaan publik yang terdaftar di bursa saham New York dan Hong Kong, Alibaba tunduk pada standar audit dan transparansi internasional yang sangat ketat. Mereka menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa teknologi atau data mereka digunakan untuk kepentingan militer China.

“Alibaba adalah perusahaan komersial yang melayani ratusan juta konsumen di seluruh dunia, dan label ini sama sekali tidak mencerminkan realitas operasional kami,”

demikian kurang lebih inti dari keberatan yang disampaikan dalam dokumen pengadilan tersebut. Perusahaan juga menyoroti bahwa mereka telah menginvestasikan miliaran dolar dalam riset dan pengembangan yang sepenuhnya ditujukan untuk kemajuan ekonomi digital sipil.

Struktur Kepemilikan dan Independensi Perusahaan

Salah satu poin krusial yang diangkat adalah independensi dewan direksi dan manajemen Alibaba dari pengaruh langsung pemerintah China atau militer. Alibaba berupaya membuktikan bahwa keputusan strategis perusahaan diambil berdasarkan kepentingan bisnis dan pemegang saham, bukan berdasarkan arahan dari komisi militer pusat. Investigasi internal perusahaan menunjukkan bahwa tidak ada kontrak militer signifikan yang dapat membenarkan penyematan label 1260H tersebut. Dengan membawa kasus ini ke pengadilan AS, Alibaba berharap dapat memaksa Pentagon untuk memaparkan bukti-bukti mereka di ruang sidang yang terbuka. Ini adalah langkah berisiko tinggi namun dianggap perlu untuk menyelamatkan masa depan Investasi Teknologi mereka di kancah global.

Implikasi Bagi Investor dan Pasar Modal Global

Gugatan ini memiliki dampak sistemik yang jauh melampaui kepentingan Alibaba semata, karena akan memengaruhi sentimen pasar terhadap perusahaan teknologi China lainnya. Para investor global kini sedang memantau dengan cermat bagaimana pengadilan California akan merespons gugatan terhadap raksasa teknologi ini. Jika Alibaba berhasil memenangkan kasus ini, hal itu akan menjadi preseden hukum yang sangat penting bagi perusahaan lain yang bernasib serupa. Sebaliknya, jika gugatan ini kandas, maka risiko investasi pada perusahaan teknologi asal China akan dianggap semakin tinggi dan tidak terduga. Ketidakpastian ini telah tercermin dalam fluktuasi harga saham Alibaba di bursa saham internasional sejak label tersebut pertama kali diumumkan.

Banyak manajer investasi di Wall Street yang kini berada dalam posisi sulit karena harus menyeimbangkan antara potensi keuntungan dan kepatuhan terhadap regulasi keamanan nasional. Daftar hitam Pentagon secara efektif memaksa terjadinya pelepasan saham (divestasi) besar-besaran yang dapat mengganggu stabilitas pasar modal. Alibaba memahami betul bahwa kemenangan di pengadilan adalah satu-satunya jalan untuk memulihkan kepercayaan investor institusional yang selama ini menjadi tulang punggung pendanaan mereka. Oleh karena itu, tim hukum yang dikerahkan oleh Alibaba bukanlah tim sembarangan, melainkan pakar hukum papan atas yang berpengalaman dalam menangani kasus-kasus Bisnis internasional yang kompleks. Pertarungan hukum ini diprediksi akan berlangsung lama dan memakan biaya yang tidak sedikit.

Perbandingan dengan Kasus Xiaomi dan Hesai

Langkah Alibaba ini sebenarnya mengikuti jejak sukses beberapa perusahaan teknologi China lainnya yang sebelumnya berhasil melawan Pentagon. Contoh yang paling menonjol adalah kasus Xiaomi pada tahun 2021, di mana pengadilan AS akhirnya memerintahkan penghapusan perusahaan tersebut dari daftar hitam militer. Dalam kasus tersebut, hakim menemukan bahwa bukti yang diajukan oleh Pentagon sangat lemah dan tidak cukup untuk mendukung klaim afiliasi militer. Keberhasilan Xiaomi memberikan harapan besar bagi Alibaba bahwa sistem peradilan Amerika Serikat masih dapat memberikan keputusan yang objektif di tengah tensi politik yang tinggi. Selain Xiaomi, perusahaan sensor lidar Hesai juga baru-baru ini meluncurkan tantangan serupa terhadap Departemen Pertahanan AS.

Pola Penegakan Hukum Pentagon yang Dipertanyakan

Munculnya gelombang gugatan dari perusahaan-perusahaan China ini menunjukkan adanya pola penegakan hukum dari Pentagon yang dianggap ceroboh oleh para ahli hukum. Banyak kritikus berpendapat bahwa Pentagon sering kali menggunakan kriteria yang terlalu luas, seperti keterlibatan perusahaan dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau 5G, sebagai bukti hubungan militer. Padahal, teknologi tersebut bersifat ganda (dual-use) yang sangat umum digunakan dalam aplikasi sipil modern. Alibaba berargumen bahwa jika kriteria tersebut digunakan secara sembarangan, maka hampir semua perusahaan teknologi besar di dunia bisa dilabeli sebagai perusahaan militer. Hal inilah yang mendasari tuntutan agar pengadilan melakukan peninjauan kembali secara mendalam terhadap metodologi yang digunakan oleh Pentagon.

Dampak Terhadap Ekosistem Teknologi Global

Pertarungan hukum antara Alibaba dan Pentagon ini juga mencerminkan fenomena “decoupling” atau pemisahan ekosistem teknologi antara Barat dan Timur. Jika raksasa seperti Alibaba terus ditekan di pasar Amerika, hal ini akan mempercepat terciptanya standar teknologi yang terfragmentasi secara global. Layanan cloud computing Alibaba, yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia, sangat terdampak oleh label militer ini karena pelanggan internasional menjadi ragu terkait keamanan data mereka. Padahal, integrasi teknologi global selama ini telah menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi dunia dalam dua dekade terakhir. Digital Transformation yang diusung oleh Alibaba kini terancam terhambat oleh hambatan-hambatan geopolitik yang semakin tebal.

Di sisi lain, tekanan dari Amerika Serikat ini juga mendorong Alibaba dan perusahaan China lainnya untuk semakin mandiri dalam hal pengembangan teknologi inti. Kita melihat adanya pergeseran strategi di mana korporasi-korporasi ini mulai mengurangi ketergantungan pada komponen dan pasar dari Amerika Serikat. Namun, proses transisi ini tidaklah mudah dan membutuhkan waktu serta biaya riset yang sangat masif. Gugatan hukum di San Jose ini adalah upaya terakhir Alibaba untuk tetap mempertahankan kaki mereka di pasar Barat sambil terus memperkuat basis domestik mereka. Hasil dari persidangan ini akan menentukan apakah kolaborasi teknologi lintas batas masih memungkinkan di masa depan ataukah kita akan benar-benar memasuki era perang dingin teknologi yang permanen.

Pandangan ke Depan: Masa Depan Hubungan Dagang AS-China

Melihat ke depan, kasus Alibaba vs Pentagon ini akan menjadi barometer penting bagi hubungan bilateral antara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Keputusan akhir dari hakim federal di California akan memberikan sinyal kuat tentang sejauh mana hukum dapat membatasi kebijakan keamanan nasional yang bersifat politis. Jika Alibaba menang, hal ini bisa meredakan sedikit ketegangan dan memberikan ruang bernapas bagi China Tech untuk tetap berkompetisi secara sehat di pasar global. Namun, jika Pentagon yang dimenangkan, kita mungkin akan melihat gelombang baru sanksi dan pembatasan yang lebih keras terhadap entitas-entitas bisnis asal Tiongkok lainnya. Belum ada konfirmasi resmi mengenai tanggal persidangan perdana, namun publik sudah menantikan argumen-argumen yang akan dibuka di pengadilan nanti.

Secara keseluruhan, gugatan ini adalah pengingat bahwa di era modern, batas antara bisnis global dan politik nasional telah menjadi sangat kabur. Alibaba, sebagai salah satu ikon kesuksesan ekonomi digital China, kini berada di garis depan dalam memperjuangkan haknya sebagai entitas bisnis sipil yang sah. Strategi Internasional perusahaan kini sangat bergantung pada hasil ketukan palu hakim di San Jose. Apapun hasilnya, kasus ini telah mencatatkan sejarah baru dalam dinamika hukum internasional dan perdagangan global. Dunia kini menunggu dengan napas tertahan, melihat apakah keadilan hukum dapat mengatasi hambatan geopolitik yang begitu kompleks.

You Might Also Like

Strategi Agresif AS Depak Huawei: Lelang Spektrum FCC Raup $3,5 Miliar Demi Amankan Jaringan Nasional

Blackstone Siapkan Rp480 Triliun Bangun Data Center AI di Jepang: Gebrakan Raksasa di Tengah Isu Bubble Teknologi

Agility Robotics Siap Guncang Bursa Saham! Startup Robot Bipedal ‘Digit’ Bidik Valuasi Fantastis $2,5 Miliar Lewat Jalur SPAC

YouTube Akhiri Drama Hukum: Google Pilih Damai dalam Kasus Kecanduan Media Sosial Remaja, Bagaimana Nasib Meta dan TikTok?

Ambisi Besar Korea Selatan: Percepat Pembangunan Cluster Chip Kedua 10 Tahun Lebih Awal Demi Dominasi AI Global!

TAGGED:#AlibabaGroup#BigTech#ChinaTech#GeopolitikTeknologi#GugatanHukum#IndustriTeknologi#Internasional#InvestasiTeknologi#Pentagon#PerangTeknologi#StrategiBisnisAmerikaSerikatBisnisEkonomiDigitalPasarGlobal

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Share
Previous Article Kesempatan Langka! Pokémon TCG Chaos Rising Booster Bundle Turun Harga di Bawah $50 Saat Prime Day, Segera Amankan Koleksi Anda!
Next Article Manuver Raksasa Samsung: Buyback Saham Fantastis 90 Triliun Won Demi Bonus Karyawan Chip dan Stabilitas Pasar!
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Stay Connected

248.1kLike
54.3kFollow
10.3kSubscribe
39.5kFollow
banner banner
Create an Amazing Newspaper
Discover thousands of options, easy to customize layouts, one-click to import demo and much more.
Learn More

Latest News

Krisis AI Global: Legion LegalTech Gugat Pemerintah AS Akibat Pemblokiran Anthropic Fable 5 dan Mythos 5 yang Melumpuhkan Industri
Artificial Intelligence Bisnis Keamanan Nasional Kebijakan Publik Teknologi
Guncang Keamanan Nasional! Model AI Mythos Milik Anthropic Berhasil Temukan Celah Rahasia di Sistem Terklasifikasi Pemerintah AS
Artificial Intelligence Industri Teknologi Keamanan Nasional Keamanan Siber Teknologi Militer
Masayoshi Son Pasang Badan: Sebut Tudingan ‘Bubble’ AI Sebagai Penghinaan Bagi Revolusi Masa Depan
Artificial Intelligence Bisnis Ekonomi Digital Inovasi Teknologi Kecerdasan Buatan
Manuver Raksasa Samsung: Buyback Saham Fantastis 90 Triliun Won Demi Bonus Karyawan Chip dan Stabilitas Pasar!
Bisnis Ekonomi Digital Industri Teknologi Investasi Samsung
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Quick Link

  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise

Support

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

HeryArts NewsHeryArts News
Follow US
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
Join Us!

Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?