By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
HeryArts NewsHeryArts NewsHeryArts News
  • Home
  • Tech News
    Tech NewsShow More
    HYPE Anjlok 22% dari Rekor Tertinggi: Apakah Ini Sinyal Rebound Kuat Menuju Level $60?
    8 Min Read
    Bitcoin Menemukan ‘Garis Pertahanan’ Baru: Akankah Data Inflasi PCE Amerika Serikat Pekan Ini Menjadi Ujian Berat?
    9 Min Read
    Samsung Beri Kejutan Luar Biasa! Galaxy S8 dan Note 8 Dapat Update Misterius Setelah Hampir 10 Tahun
    10 Min Read
    Weber Spirit EX-325: Evolusi Panggangan Pintar yang Mengubah Cara Kita Berpesta Barbeque di Rumah
    10 Min Read
    Investasi Gear Outdoor Terbaik: Mengapa Pakar Hiking Rela Merogoh Kocek Dalam demi 9 Esensial Patagonia Musim Panas Ini?
    9 Min Read
  • AI News
    AI NewsShow More
    OpenAI Resmi Luncurkan GPT-5.5 Versi Gratis: ChatGPT Kini Miliki Pemahaman Konteks Luar Biasa yang Mengubah Standar AI Dunia
    9 Min Read
    Tesla Bantah Tuduhan FSD Mematikan: Data Log Ungkap Kesalahan Fatal Pengemudi Salah Injak Pedal Gas
    11 Min Read
    Membongkar Rahasia Batasan 5 Jam Claude AI: Mengapa Pengguna Gratis Sering Terhenti dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
    10 Min Read
    SpaceX Caplok Cursor Senilai $60 Miliar: Inilah Perbandingan Jujur Claude Code vs Cursor di Era Coding 2026
    10 Min Read
    Bukan Sekadar Benchmark: 12 Alasan Kuat Mengapa Claude Kini Mengungguli ChatGPT dalam Workflow Profesional Harian
    9 Min Read
  • Mobile
    MobileShow More
    Rahasia Setup Mobile Gaming Pro: Mengapa Aksesoris Tambahan Menjadi Kunci Utama dalam Menaklukkan The Division: Resurgence
    8 Min Read
    Revolusi Mobile Coding: Mengapa Mengetik Kode di HP Sudah Kuno dan Peran AI Agents yang Mengubah Segalanya
    9 Min Read
    Google Resmi Rilis Android 17 QPR1 Beta 5 untuk Pixel: Solusi Masalah Besar yang Dinantikan Pengguna Akhirnya Tiba!
    11 Min Read
    Gebrakan Google Play: Kampanye ‘Mega Game Sale’ Pangkas Harga Game Android Populer Menjadi Hanya $0.10
    12 Min Read
    AIB Guncang Sektor Perbankan: Rombak Total Aplikasi Mobile Setelah Satu Dekade Demi Pengalaman Finansial Paripurna
    12 Min Read
  • Gadget
    GadgetShow More
    Bocoran Eksklusif: Inilah 28 Penawaran Laptop Terbaik di Amazon Prime Day yang Wajib Anda Pantau Menurut Pakar Teknologi
    11 Min Read
    Nothing Phone 4b Siap Gebrak Pasar Entry-Level pada 7 Juli: Revolusi Desain Transparan Kini Lebih Terjangkau?
    10 Min Read
    Rahasia di Balik Fitur Deteksi Sleep Apnea: Apakah Smartwatch Anda Benar-benar Bisa Menyelamatkan Nyawa?
    12 Min Read
    Panduan Lengkap Speaker Bluetooth Terbaik 2026: Bedah Inovasi Audio dari JBL, Sonos, hingga Bose
    11 Min Read
    21 Penawaran Walmart Terbaik yang Mengguncang Dominasi Amazon Prime Day: Strategi Belanja Gadget Paling Cerdas Tahun Ini
    11 Min Read
  • Software
    SoftwareShow More
    Adobe Resmi Akuisisi Topaz Labs: Revolusi Besar AI untuk Photoshop dan Premiere Pro Segera Tiba!
    12 Min Read
    Hanya Ubah Satu Baris Kode di GCC Compiler, Performa Chip Intel dan AMD Melejit Hingga 12 Persen!
    10 Min Read
    Notion Rilis Agen Claude Revolusioner: Bisa Menulis Kode dan Update Proyek Otomatis, Tapi Apakah Sebanding dengan Biayanya?
    12 Min Read
    Revolusi Navigasi Mac: Aplikasi HapticPad Ubah Cara Anda Menjelajah Web dengan Getaran Sensorik di Trackpad
    10 Min Read
    Siklus Abadi Dunia Digital: Mengapa Masa Depan Web Justru Bergantung pada Standar Masa Lalu?
    12 Min Read
  • Gaming
    GamingShow More
    Banjir Diskon Game Prime Day: 29 Penawaran Terbaik untuk PS5, Xbox Series X, dan Nintendo Switch yang Wajib Anda Miliki
    9 Min Read
    Penantian Panjang Berakhir! Rockstar Games Resmi Buka Pre-Order GTA 6 Hari Ini, Simak Detail Harga Edisi Standar dan Ultimate
    10 Min Read
    Amazon Prime Day Kembali Mengguncang: Kesempatan Emas Upgrade Setup Gaming dengan Diskon Periferal dan Game Terbaik
    10 Min Read
    Pre-Order Grand Theft Auto 6 (GTA 6) Resmi Dibuka Malam Ini: Panduan Lengkap Edisi Standard dan Ultimate Untuk Gamer
    10 Min Read
    Banjir Diskon Kartu Koleksi! Inilah Panduan Lengkap Berburu Pokémon, Magic: The Gathering, hingga One Piece di Amazon Prime Day
    9 Min Read
  • Education
    EducationShow More
    Mosyle@Home Hadir Sebagai Solusi Revolusioner Manajemen Screen Time iPad dan Mac Sekolah untuk Orang Tua
    9 Min Read
    Avmira Raih Skor Proof of Usefulness 21.71: Revolusi Platform Edukasi Digital Berbasis AI untuk Developer Masa Depan
    14 Min Read
    Revolusi Pendidikan Prabowo: Dari Sekolah Rakyat ke Era Digital, Strategi Besar Cetak SDM Unggul Indonesia
    11 Min Read
    Siasat Licik Siswa Kelabui Detektor AI: Mengenal Aplikasi ‘Humanizer’ dan ‘Autotyper’ yang Mengancam Integritas Akademik
    12 Min Read
    Gen Z Skeptis Terhadap AI: Mengapa Universitas Harus Berhenti Memaksakan Teknologi dan Mulai Mendengarkan Mahasiswa
    10 Min Read
Search
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
Reading: Kegagalan Fatal AI Camera Assistant Sony Xperia 1 VIII: Mengapa Fitur Unggulan Ini Justru Merusak Kualitas Foto Flagship?
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
HeryArts NewsHeryArts News
Font ResizerAa
  • Home
  • Tech News
  • AI News
  • Mobile
  • Gadget
  • Software
  • Gaming
  • Education
Search
  • Home
  • Tech News
  • AI News
  • Mobile
  • Gadget
  • Software
  • Gaming
  • Education
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
HeryArts News > Blog > Technology > Smartphone > Kegagalan Fatal AI Camera Assistant Sony Xperia 1 VIII: Mengapa Fitur Unggulan Ini Justru Merusak Kualitas Foto Flagship?
GadgetInovasi TeknologiKecerdasan BuatanSmartphoneTechnology

Kegagalan Fatal AI Camera Assistant Sony Xperia 1 VIII: Mengapa Fitur Unggulan Ini Justru Merusak Kualitas Foto Flagship?

Last updated: June 23, 2026 5:14 pm
heryarts
Share
SHARE

Selama beberapa dekade terakhir, Sony telah mengukuhkan posisinya sebagai raja yang tak terbantahkan di dunia sensor citra dan fotografi profesional melalui lini kamera Alpha mereka yang legendaris. Namun, reputasi gemilang tersebut kini tengah menghadapi ujian berat menyusul peluncuran perangkat flagship terbaru mereka, Sony Xperia 1 VIII. Alih-alih membawa revolusi yang dinantikan, fitur unggulan yang mereka banggakan justru menjadi bumerang yang memicu gelombang kritik tajam dari para pengamat teknologi. Banyak pihak merasa kecewa karena ekspektasi tinggi terhadap kemampuan fotografi mobile Sony justru dijawab dengan hasil yang jauh dari standar premium. Ketimpangan antara janji pemasaran dan realitas fungsionalitas fitur ini menjadi sorotan utama dalam industri teknologi saat ini.

Contents
Kegagalan Fitur AI Camera Assistant yang MengejutkanRealitas di Balik Kampanye PemasaranAnalisis Mendalam: Mengapa Hasil Foto Terlihat Begitu Buruk?Masalah Pemrosesan Gambar yang BerlebihanPerbandingan Strategi AI: Sony vs Kompetitor GlobalPosisi Sony di Pasar FlagshipDampak Terhadap Citra Brand Sony di Mata FotograferReaksi Komunitas dan PenggunaMenilik Sisi Teknis: Apa yang Salah dengan Algoritma Sony?Keterbatasan Hardware vs SoftwareMasa Depan Xperia 1 VIII: Apakah Perbaikan Masih Mungkin Dilakukan?

Masalah utama bermula ketika Sony memperkenalkan AI Camera Assistant, sebuah asisten cerdas yang seharusnya mempermudah pengguna dalam menangkap momen sempurna secara otomatis. Namun, hasil pengujian di lapangan menunjukkan hasil yang sangat kontradiktif dengan klaim perusahaan. Sejak diumumkan bulan lalu, promosi yang dilakukan Sony justru memperlihatkan beberapa kualitas foto terburuk yang pernah dihasilkan oleh kamera Sony dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memicu tanda tanya besar di kalangan konsumen mengenai arah pengembangan teknologi pencitraan mereka. Sebagai jurnalis yang telah mengikuti perkembangan gadget selama dua dekade, fenomena ini merupakan salah satu kegagalan teknis yang paling mencolok dari brand sebesar Sony.

Kegagalan Fitur AI Camera Assistant yang Mengejutkan

Saat pertama kali Sony Xperia 1 VIII diumumkan, perhatian publik tertuju pada integrasi kecerdasan buatan yang diklaim mampu meniru intuisi fotografer profesional. Sony mempromosikan AI Camera Assistant sebagai solusi bagi pengguna awam untuk mendapatkan hasil foto sekelas profesional tanpa harus mengatur parameter manual yang rumit. Namun, kampanye pemasaran tersebut justru menjadi bumerang ketika foto-foto sampel yang dibagikan terlihat sangat artifisial dan kehilangan detail alami. Banyak pakar fotografi menyebut bahwa algoritma yang digunakan tampak terlalu agresif dalam melakukan pemrosesan gambar. Akibatnya, tekstur kulit, gradasi warna, dan detail pada area gelap menjadi hancur dan terlihat seperti lukisan cat air yang gagal.

Realitas di Balik Kampanye Pemasaran

Setelah menghabiskan waktu satu minggu penuh melakukan pengujian mendalam dengan unit Xperia 1 VIII, kenyataan pahit mulai terungkap secara jelas. Fitur AI Camera Assistant ini tidak hanya gagal meningkatkan kualitas gambar, tetapi dalam banyak skenario, justru memperburuk hasil tangkapan sensor yang sebenarnya sudah sangat mumpuni secara hardware. Pengalaman penggunaan sehari-hari menunjukkan bahwa asisten AI ini seringkali salah dalam mengenali subjek dan kondisi pencahayaan di sekitar pengguna. Hal ini mengakibatkan inkonsistensi yang sangat mengganggu, di mana satu foto mungkin terlihat layak, sementara foto berikutnya dalam kondisi yang sama bisa terlihat sangat buruk. Ketidakstabilan performa perangkat lunak ini menjadi poin negatif yang sangat sulit untuk diabaikan begitu saja.

“Foto-foto ini bukan sekadar foto biasa; mereka diambil dengan AI Camera Assistant baru milik Sony, dan hasilnya adalah beberapa foto terburuk yang pernah diambil dengan kamera Sony dalam bertahun-tahun.”

Analisis Mendalam: Mengapa Hasil Foto Terlihat Begitu Buruk?

Salah satu aspek teknis yang paling dikritik dari AI Camera Assistant pada Xperia 1 VIII adalah cara algoritma menangani dynamic range dan ketajaman gambar. Dalam upaya untuk mengurangi noise dan mencerahkan bayangan, AI ini tampaknya melakukan penghalusan (smoothing) yang sangat berlebihan pada seluruh area foto. Hal ini mengakibatkan hilangnya micro-contrast yang biasanya menjadi ciri khas dari lensa berkualitas tinggi milik Sony. Selain itu, saturasi warna yang dihasilkan seringkali terlihat tidak natural, dengan warna hijau dan biru yang terlalu mencolok hingga menyakitkan mata. Pengguna yang mengharapkan kejernihan khas sensor Sony justru mendapatkan gambar yang tampak datar dan kehilangan dimensi kedalaman yang seharusnya ada.

Masalah Pemrosesan Gambar yang Berlebihan

Efek dari pemrosesan gambar yang terlalu kuat ini sangat terlihat saat pengguna mencoba melakukan zoom atau memotong (crop) hasil foto tersebut. Detail-detail kecil seperti helai rambut atau serat pakaian menghilang dan digantikan oleh artefak digital yang kasar dan tidak beraturan. Hal ini sangat ironis mengingat Sony selalu membanggakan kemampuan hardware mereka yang mampu menangkap detail dalam resolusi tinggi. Tampaknya, ada diskoneksi yang signifikan antara tim pengembang hardware sensor dan tim pengembang perangkat lunak kecerdasan buatan di internal Sony. Ketidakselarasan ini menghasilkan produk akhir yang terasa belum matang dan dipaksakan untuk segera masuk ke pasar global.

  • Kelemahan Detail: Algoritma AI menghapus tekstur halus yang seharusnya ditangkap oleh sensor kamera.
  • Inkonsistensi Warna: AI seringkali memberikan warna yang terlalu jenuh dan tidak sesuai dengan kondisi asli.
  • Artefak Digital: Munculnya bintik-bintik aneh pada area transisi antara cahaya terang dan bayangan.
  • Kegagalan Fokus: AI Camera Assistant terkadang justru mengalihkan fokus dari subjek utama secara tidak sengaja.

Perbandingan Strategi AI: Sony vs Kompetitor Global

Jika kita membandingkan pendekatan Sony dengan kompetitor seperti Google melalui lini Pixel atau Samsung dengan seri Galaxy, terlihat perbedaan filosofi yang sangat mencolok. Google telah bertahun-tahun menyempurnakan computational photography mereka agar terlihat sealami mungkin, sementara Samsung lebih fokus pada estetika yang cerah namun tetap tajam. Sony, di sisi lain, tampak seperti sedang mengejar ketertinggalan dengan cara yang terburu-buru melalui AI Camera Assistant mereka. Alih-alih memberikan kontrol lebih kepada pengguna, AI milik Sony justru mengambil alih keputusan kreatif dengan hasil yang seringkali meleset jauh dari keinginan pengguna. Hal ini menempatkan Xperia 1 VIII dalam posisi yang sulit di pasar smartphone premium yang sangat kompetitif.

Posisi Sony di Pasar Flagship

Para pengguna setia Sony biasanya adalah mereka yang menghargai kontrol manual dan kemurnian hasil foto yang mendekati kamera mirrorless Alpha. Dengan memperkenalkan fitur AI yang bersifat mengintervensi hasil akhir secara agresif, Sony berisiko mengasingkan basis penggemar setianya sendiri. Di saat kompetitor mulai menggunakan AI untuk hal-hal yang lebih bermanfaat seperti perbaikan foto lama atau penghapusan objek yang mengganggu, Sony justru menggunakannya untuk pemrosesan dasar yang gagal. Jika tren ini berlanjut, posisi Sony sebagai pilihan utama bagi para fotografer mobile bisa terancam oleh brand lain yang lebih memahami kebutuhan pasar. Belum ada konfirmasi resmi mengenai apakah Sony akan merombak total algoritma ini dalam waktu dekat.

Dampak Terhadap Citra Brand Sony di Mata Fotografer

Reputasi adalah aset paling berharga bagi Sony, terutama di segmen profesional yang sangat kritis terhadap detail teknis. Kegagalan fitur AI Camera Assistant pada Xperia 1 VIII bukan hanya masalah teknis kecil, melainkan ancaman serius terhadap integritas brand mereka. Fotografer profesional yang selama ini mengandalkan smartphone Xperia sebagai kamera kedua mereka kini mulai mempertimbangkan alternatif lain. Mereka merasa bahwa Sony mulai kehilangan sentuhan “analog” dan kejujuran visual yang selama ini menjadi nilai jual utama produk mereka. Kekecewaan ini tersebar luas di berbagai forum komunitas dan media sosial, menciptakan sentimen negatif yang dapat mempengaruhi angka penjualan di masa mendatang.

Reaksi Komunitas dan Pengguna

Banyak pengguna yang telah mencoba perangkat ini melaporkan bahwa mereka lebih memilih untuk mematikan fitur AI tersebut secara total agar bisa mendapatkan hasil foto yang layak. Hal ini tentu sangat memprihatinkan bagi Sony, mengingat fitur tersebut adalah salah satu nilai jual utama yang mereka promosikan secara besar-besaran. Ketika sebuah fitur unggulan justru dihindari oleh penggunanya sendiri, itu adalah indikasi kuat adanya kegagalan dalam riset dan pengembangan produk. Sony perlu mendengarkan masukan dari komunitas ini jika mereka ingin menyelamatkan seri Xperia dari keterpurukan. Kepercayaan konsumen yang sudah luntur akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan upaya yang sangat besar untuk bisa dipulihkan kembali.

Menilik Sisi Teknis: Apa yang Salah dengan Algoritma Sony?

Secara teknis, pengembangan AI untuk fotografi membutuhkan data latihan (training data) yang sangat masif dan beragam agar sistem dapat mengenali berbagai kondisi dunia nyata. Ada dugaan bahwa algoritma AI Camera Assistant milik Sony belum melalui tahap pengujian yang cukup luas di luar lingkungan laboratorium terkontrol. Hal ini menjelaskan mengapa performanya sangat buruk ketika dihadapkan pada skenario pencahayaan yang kompleks atau subjek yang bergerak cepat. Sistem tampaknya terlalu bergantung pada preset tertentu yang tidak fleksibel, sehingga gagal beradaptasi dengan dinamika cahaya alami. Masalah optimasi perangkat lunak ini menunjukkan bahwa integrasi AI bukan sekadar menambahkan filter cerdas, melainkan membutuhkan pemahaman mendalam tentang optik.

Keterbatasan Hardware vs Software

Meskipun hardware kamera pada Xperia 1 VIII tetap menggunakan teknologi sensor tercanggih, perangkat lunak yang mengaturnya justru menjadi penghambat utama. Masalah ini mempertegas argumen bahwa di era modern, kualitas kamera smartphone tidak lagi ditentukan hanya oleh jumlah megapixel atau ukuran sensor, melainkan oleh kecanggihan pemrosesan citranya. Sony mungkin memiliki hardware terbaik di dunia, namun tanpa dukungan software yang cerdas dan efisien, hardware tersebut tidak akan bisa mengeluarkan potensi maksimalnya. Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh industri bahwa teknologi AI haruslah membantu manusia, bukan justru menggantikan peran mereka dengan hasil yang inferior.

Masa Depan Xperia 1 VIII: Apakah Perbaikan Masih Mungkin Dilakukan?

Meskipun situasi saat ini terlihat suram bagi Xperia 1 VIII, harapan untuk perbaikan masih tetap ada melalui pembaruan perangkat lunak di masa depan. Sony memiliki sejarah dalam memberikan update yang signifikan untuk meningkatkan performa kamera mereka setelah produk diluncurkan ke pasar. Namun, tantangan kali ini jauh lebih besar karena menyangkut inti dari algoritma kecerdasan buatan mereka. Dibutuhkan perubahan fundamental dalam cara AI tersebut memproses gambar, bukan sekadar perbaikan bug kecil. Jika Sony mampu merilis update yang memberikan opsi kontrol lebih transparan bagi pengguna terhadap intensitas AI, mereka mungkin masih bisa menyelamatkan reputasi perangkat flagship ini.

Sebagai kesimpulan, Sony Xperia 1 VIII dengan fitur AI Camera Assistant-nya saat ini menjadi pengingat bahwa teknologi AI tidak selalu berarti kemajuan jika tidak diimplementasikan dengan hati-hati. Bagi para calon pembeli, disarankan untuk menunggu hingga Sony merilis perbaikan resmi atau setidaknya memahami bahwa untuk mendapatkan hasil terbaik, mode manual tetap menjadi pilihan utama pada ponsel ini. Industri teknologi akan terus memantau langkah apa yang akan diambil Sony selanjutnya untuk mengatasi krisis kualitas ini. Apakah mereka akan mengakui kegagalan ini dan melakukan perubahan besar, atau tetap bertahan dengan visi AI mereka yang kontroversial? Waktu yang akan menjawab apakah Sony masih layak menyandang gelar raja fotografi mobile di masa depan.

You Might Also Like

Bocoran Eksklusif: Inilah 28 Penawaran Laptop Terbaik di Amazon Prime Day yang Wajib Anda Pantau Menurut Pakar Teknologi

Polemik AI Claude di Balik Meja Legislatif: Bantahan Politisi Florida Terkait Tuduhan Penyusunan Undang-Undang Otomatis

Nothing Phone 4b Siap Gebrak Pasar Entry-Level pada 7 Juli: Revolusi Desain Transparan Kini Lebih Terjangkau?

Revolusi Ekosistem Android: Google Resmi Buka Sistem Pembayaran Pihak Ketiga di Play Store Mulai 30 Juni!

Rahasia di Balik Fitur Deteksi Sleep Apnea: Apakah Smartwatch Anda Benar-benar Bisa Menyelamatkan Nyawa?

TAGGED:#AI#AICameraAssistant#FotografiDigital#InovasiTeknologi#KecerdasanBuatan#KualitasFoto#SmartphonePremium#SonyAlpha#SonyXperia1VIII#TechNews#TeknologiTerbaruFlagshipPhoneGadgetReviewGadgetSmartphone

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Share
Previous Article Oura Ring 4 Turun Harga Gila-gilaan di Amazon Prime Day: Kesempatan Emas Memiliki Smart Ring Premium dengan Budget Hemat!
Next Article Kindle Paperwhite 16GB Turun Harga ke Titik Terendah: Penawaran Amazon Prime Day yang Wajib Anda Lirik Sekarang!
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Stay Connected

248.1kLike
54.3kFollow
10.3kSubscribe
39.5kFollow
banner banner
Create an Amazing Newspaper
Discover thousands of options, easy to customize layouts, one-click to import demo and much more.
Learn More

Latest News

Panduan Lengkap Speaker Bluetooth Terbaik 2026: Bedah Inovasi Audio dari JBL, Sonos, hingga Bose
Elektronik Gadget Gaya Hidup Digital Inovasi Teknologi Teknologi
Tragedi Gempa Kembar Venezuela: Guncangan Dahsyat 7,5 Magnitudo Picu Status Darurat Nasional, Ribuan Korban Jiwa Dikhawatirkan
Internasional Kebijakan Publik Masa Depan
21 Penawaran Walmart Terbaik yang Mengguncang Dominasi Amazon Prime Day: Strategi Belanja Gadget Paling Cerdas Tahun Ini
Belanja Online Bisnis Ekonomi Digital Gadget Teknologi
Proyek BioVault: Kolaborasi Raksasa Colossal dan Pemerintah AS Amankan Genetik Spesies Langka di Tengah Kontroversi Regulasi
Inovasi Teknologi Internasional Lingkungan Sains Teknologi
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Quick Link

  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise

Support

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

HeryArts NewsHeryArts News
Follow US
© 2022 HeryArts News Network. Company. All Rights Reserved.
Join Us!

Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?